Annecy | Between Memories

Annecy | Between Memories

  • WpView
    Reads 208
  • WpVote
    Votes 148
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 30, 2026
Leya datang ke Annecy dengan satu tujuan: melupakan segalanya tentang Bandung - tentang orang yang memberinya luka, lalu pergi tanpa penjelasan. Ia pikir pindah ke kota kecil di tepi danau Prancis akan membuat semuanya lebih mudah. Tapi ternyata, luka tak bisa diatur sesederhana mengganti peta. Di Annecy, hidupnya justru berubah pelan-pelan. Bukan karena tempatnya yang indah, tapi karena seseorang yang hadir tanpa membawa janji - tenang, sabar, dan tidak pernah memaksa. Bersama dia, Leya belajar bahwa tidak semua cinta harus terburu-buru, dan tidak semua luka harus disembuhkan. Beberapa cukup diterima... agar akhirnya bisa memberi ruang untuk sesuatu yang baru. Kadang, yang paling sulit bukan melupakan masa lalu - tapi berani membuka hati lagi di tempat yang sama sekali asing. ******* 𝓐𝓷𝓷𝓮𝓬𝔂
All Rights Reserved
#373
teen
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Nala dan Mas Juragan
  • The Villain's Mother
  • The Last Yes!
  • De Andere Weg (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Almost Married (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Chasing Sanara

Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines