
Warning ⚠️ konten ini mengandung kekerasan, bullying hingga trigger, harap bijak dalam memilih konten. Kebaikan dan empati gadis kecil bernama Elena Anindita, berakhir di manfaatkan oleh seorang pemuda arogan yang tak berperasaan. Sialnya, bukan benci. Elena justru jatuh cinta sama pria yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Pria dingin itu selalu punya cara untuk membuatnya dapat bernapas, seperti rumah yang hangat, tetapi banyak duri di dalamnya. "Lepasin gue." Teriak Elena saat lengannya di tarik paksa. "Diam!" Bentaknya dingin. "Ini hukuman buat lo karena selalu melawan." "Liam itu cuma makanan, gue juga ngasih itu gak ada maksud apa-apa selain karena terima kasih karena dia sudah bantuin gue " Jelas Elena. Liam mendorong tubuh Elena hingga punggungnya terbentur dinding. "Itu masalahnya..." netra Liam mendadak gelap. "Lo tahu gue gak suka lo kasih apa pun sama cowok lain, lo masih aja ngelakuin." Elena mendongak netranya penuh tantangan, "Apa urusan lo, kita bukan siapa-siapa, itu hak gue kasih apa pun." Sudut bibit Liam terangkat sedikit, ia memiringkan kepala sebelum mendorong kedepan tengkuk Elena, membuat bibir mungil gadis itu mengenai leher jenjang Liam. "Gigit leher gue sekarang." Nada itu rendah tapi mencekam. Tubuh Elena menegang, dadanya naik turun, rasa takut marah menyerap dalam dirinya. "Gigit Elena." Suara Liam turun satu oktaf. Elena mencoba mendorong dada Liam, tetapi cengkeraman pria dingin di tengkuknya terlalu kuat. "Jadi lo lebih milih gue yang lakuin di leher lo." Sial! Ancaman itu akan benar-benar Liam lakukan jika dia tak menurut, dengan tangan yang mengerat di roknya sendiri, Elena membuka bibir lalu menggigit leher Liam, membuat Liam menahan napas sembari mengigit bibir bawahnya. "Lo liat tanda ini. Ini tanda lo milik gue sekarang." Elena akhirnya mendorong dada Liam saat cengkraman itu mengedur. Dengan isak dan suara pecah ia bergumam. "Gue benci lo Liam." Tapi, apa alasan Liam lakukkan semua itu?All Rights Reserved
1 part