Di tengah hiruk pikuk Bandung yang tak pernah benar-benar tidur, Rendra mencoba bertahan di antara target kerja, kopi dingin, dan kenangan yang menolak pergi.
Ia mencintai dalam diam, kehilangan dengan tenang, dan belajar bahwa hidup tidak selalu memberi kesempatan kedua.
Dari satu pertemuan ke perpisahan lain, Rendra belajar bahwa tidak semua cinta berakhir bahagia, beberapa hanya datang untuk membuat kita lebih manusia.
Sebuah kisah tentang kedewasaan, kehilangan, dan keberanian untuk melanjutkan hidup-bahkan ketika cinta tidak lagi tinggal.
Bandung selalu punya cara mengingatkan: bahwa tawa, hujan, dan kehilangan bisa tinggal di tempat yang sama. Latar Bandung yang lembab, suara hujan di atas atap kantor, dan temaram lampu jalan menjadi saksi perjalanan emosional seorang pria biasa yang berusaha tetap utuh ketika hidup terus berjalan tanpa menunggu siapa pun.
Novel ini adalah potret urban Bandung yang sunyi namun hidup-tentang seseorang yang belajar bahwa cinta tidak selalu berujung bersama, tentang kehilangan yang tidak melodramatis, cinta yang tidak sempurna, dan cara manusia bertahan dengan caranya masing-masing.
tetapi setiap orang yang datang meninggalkan cahaya kecil yang membentuk siapa dirinya hari ini.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang