Di bawah langit oranye keemasan yang memukau, keluarga Mahen sibuk berpose gila-gilaan untuk sesi foto piramida yang absurd. "Wah, keren banget! Tapi kurang greget nih! Kita ulang lagi, tapi gayanya yang lebih gila!" seru Jean, memicu tawa renyah dari semua saudaranya. Setelah puas dengan kekonyolan mereka, Mahen menatap adik-adiknya dengan senyum tulus. "Gue seneng banget hari ini bisa liburan bareng kalian semua," katanya, yang disambut sahutan hangat. Namun, kebahagiaan yang diwarnai bau sunblock dan tawa lepas itu tak bertahan lama, karena badai akan segera menerjang.
Dua minggu kemudian, keceriaan itu sirna. Mahen mengumumkan kabar buruk dengan suara berat, "Rumah kita... mau dijual." Jean langsung berteriak tak percaya, "Dijual?! Kenapa, Bang?!" Suasana hening, digantikan tekad bulat Jakah, si bungsu. "Bang, kenapa kita gak coba cari cara lain?" Ide itu menyulut semangat baru. Sean menawarkan keahlian desainnya, Jean siap berjualan online, Noa jadi driver ojol, Jino berencana masak aneh-aneh, dan Jakah mencari peluang. "Oke! Kita semua kerja keras! Kita buktikan kalau kita bisa menyelamatkan rumah ini!" seru Mahen, menyulut api perjuangan mereka. Misi mustahil untuk mempertahankan rumah tercinta dimulai, penuh dengan keringat, air mata, dan kekonyolan khas keluarga Mahen yang tak pernah habis....
All Rights Reserved