"Kadang yang tak dipilih bukan berarti tak berharga.Ia hanya menunggu seseorang yang tahu cara menghargainya".
Di pasar sore di kota Bandung, di antara suara pedagang, hujan rintik, dan aroma buah yang matang, Meijira Ayame menjual alpukat-alpukatnya dengan sabar. Ia bukan siapa-siapa hanya seorang perempuan sederhana yang hidupnya mengalir seperti air.
Namun di balik senyum lembutnya, Meijira menyimpan banyak percakapan dengan hal-hal kecil seperti buah yang tak dipilih, pohon yang terlalu sabar, hujan yang datang terlambat, dan hingga secangkir teh yang terlalu pahit. Semua menjadi cermin bagi pikirannya dan hatinya yang tenang tapi sering merasa asing di tengah hiruk pikuk dunia.
Setiap bab adalah potongan kecil dari hidup yang tampak sepele, tapi menyimpan makna dalam.
Tentang menunggu dengan sabar, menerima yang tak sempurna, dan belajar melihat indahnya hal-hal biasa.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang