What we never said

What we never said

  • WpView
    LECTURAS 2,526
  • WpVote
    Votos 237
  • WpPart
    Partes 16
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación vie, jun 5, 2026
WpInfo
Ficción
Romance
Sometimes, silence says everything we're too afraid to admit." --- > They grew up side by side - two houses, two hearts, one unspoken truth. Until silence became the only thing left between them. Sinopsis Harry dan Aqeela sudah bersahabat sejak mereka masih belajar jalan. Rumah mereka berdiri berdampingan, kamar mereka hanya dipisahkan balkon kecil yang menjadi saksi semua cerita - dari tawa masa kecil, tangis remaja, hingga rahasia yang tak pernah terucap. Bagi Aqeela, Harry adalah rumah. Tempat pulang setiap kali dunia terasa terlalu ramai. Bagi Harry, Aqeela adalah segalanya - tapi juga satu-satunya hal yang tak bisa ia miliki. Karena di balik tawa, Harry menyimpan rahasia besar: ia punya pacar. Dan yang lebih rumit lagi - ia mencintai sahabatnya sendiri. Sampai akhirnya, Aqeela mulai sadar kalau ada bagian dari hidup Harry yang tak pernah ia ketahui. Dan ketika ia memilih untuk menjauh... Harry sadar, kadang yang paling menghancurkan bukanlah kehilangan seseorang - tapi kehilangan kebiasaan yang membuat kita merasa hidup.
Todos los derechos reservados
#16
harryaqeela
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Nala dan Mas Juragan
  • Prahara Lamaran [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Nakula
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Kembang Desa
  • Salah Status [END]
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido