What we never said

What we never said

  • WpView
    Reads 1,008
  • WpVote
    Votes 95
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Oct 13, 2025
Sometimes, silence says everything we're too afraid to admit." --- > They grew up side by side - two houses, two hearts, one unspoken truth. Until silence became the only thing left between them. Sinopsis Harry dan Aqeela sudah bersahabat sejak mereka masih belajar jalan. Rumah mereka berdiri berdampingan, kamar mereka hanya dipisahkan balkon kecil yang menjadi saksi semua cerita - dari tawa masa kecil, tangis remaja, hingga rahasia yang tak pernah terucap. Bagi Aqeela, Harry adalah rumah. Tempat pulang setiap kali dunia terasa terlalu ramai. Bagi Harry, Aqeela adalah segalanya - tapi juga satu-satunya hal yang tak bisa ia miliki. Karena di balik tawa, Harry menyimpan rahasia besar: ia punya pacar. Dan yang lebih rumit lagi - ia mencintai sahabatnya sendiri. Sampai akhirnya, Aqeela mulai sadar kalau ada bagian dari hidup Harry yang tak pernah ia ketahui. Dan ketika ia memilih untuk menjauh... Harry sadar, kadang yang paling menghancurkan bukanlah kehilangan seseorang - tapi kehilangan kebiasaan yang membuat kita merasa hidup.
All Rights Reserved
#30
harryaqeela
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Blueprint Pelarian Villain
  • Tsundere Maniak Susu
  • The Time
  • GHAIKA (REVISI)
  • Transmigrasi Ziora
  • I'm Not Just a Figuran
  • EVANESCENT
  • GRAVARENZO
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines