dia yang diam diam ku rindukan

dia yang diam diam ku rindukan

  • WpView
    Reads 1
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 8, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Namanya Areksa. Tidak ada yang terlalu istimewa darinya-setidaknya begitu yang sering ia pikirkan. Ia bukan yang paling pintar di kelas, bukan yang paling ramai di tongkrongan, bahkan bukan yang paling sering muncul di foto-foto Instagram teman-temannya. Tapi bagi blade, areksa adalah pusat semestanya. Blade menyukai areksa sejak mereka duduk di bangku SMA. Bukan karena Areksa jago main basket atau pandai main gitar seperti tokoh-tokoh drama remaja. Tapi karena Areksa selalu ada. Saat blade terjatuh karena tersandung di lapangan, Areksa orang pertama yang menolong tanpa tertawa. Saat semua sibuk dengan geng masing-masing, Areksa. duduk sendiri di perpustakaan, membaca buku dengan tenang. Rani diam-diam duduk tak jauh darinya, pura-pura membaca, padahal hanya ingin mencuri momen. Areksa tak banyak bicara. Tapi sekali berbicara, kata-katanya mengendap lama. Ia tidak pernah memuji Areksa secara langsung, tapi matanya selalu hangat setiap mereka bicara. blade menyimpan semua momen kecil itu seperti koleksi rahasia. Bertahun-tahun berlalu. Mereka berpisah setelah lulus. blade ke kota, Areksa tetap di kampung halaman. Tapi perasaan itu tak pernah benar-benar hilang. blade tumbuh, belajar banyak hal, bertemu banyak orang. Tapi tak satu pun bisa menggantikan perasaan tenang yang ia rasakan saat bersama Areksa. Hingga suatu hari, saat pulang kampung untuk libur lebaran, blade melihat seseorang duduk di bangku taman desa. Membaca buku yang dulu sering mereka baca bersama. Areksa. Ia menoleh dan tersenyum kecil. "Kamu masih suka pura-pura baca?" tanyanya pelan. blade menyimpantertawa, wajahnya memerah. Dan untuk pertama kalinya, ia tak lagi harus menyukai Awan diam-diam.
All Rights Reserved
#341
sweetromance
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Transmigrasi Ziora
  • The Time
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • I'm Not Just a Figuran
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • GHAIKA (REVISI)
  • Tsundere Maniak Susu
  • GRAVARENZO
  • EVANESCENT (HIATUS)

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines