Sembilan tahun merantau. Ansaira Lalembah Binara akhirnya pulang, bukan lagi sekadar bertandang setahun sekali, melainkan menetap. Ia meninggalkan hiruk-pikuk kota, melepaskan gelar dan jabatan yang dulu dikejarnya, kembali membawa dirinya yang rendah hati, lembut, dan bersinar-kembali ke rumah, ke pelukan orang tua, dan ke lembah tempat ia dilahirkan. Di tanah yang sama, Arseno Tresnawira Narendra telah berdiri kokoh. Ia memilih tak pergi saat teman-temannya merantau, memilih bertahan dan bekerja dengan tangan sendiri. Dari dua petak sawah menjadi puluhan petak, dari dua ekor kambing menjadi ribuan ternak, hingga mendirikan kafe yang menjadi jantung kampungnya. Di usia mendekati tiga puluh, ia telah membuktikan: kesuksesan sejati lahir dari ketekunan, kemandirian, dan kasih pada tanah kelahiran.
More details