Silent Chains

Silent Chains

  • WpView
    MGA BUMASA 28
  • WpVote
    Mga Boto 5
  • WpPart
    Mga Parte 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeHuling na-publish Thu, Oct 9, 2025
Dia duduk di sudut kamar yang redup, mata menatap kosong ke luar jendela. Hembusan angin malam seolah membawa bisikan-bisikan yang tak pernah dia mengerti sepenuhnya. Hatinya berat, penuh dengan beban yang tak terlihat, tapi terasa menjerat setiap napasnya. Suara hatinya sepi, tenggelam dalam kesunyian yang dia ciptakan sendiri. Setiap kata yang ingin diucapkan terkunci rapat, digantikan oleh rasa takut dan rasa bersalah yang menghimpit. Ia tahu, dia terikat oleh sesuatu yang lebih dari sekadar janji atau kata-kata manis-rantai yang merenggut kebebasan dan meremukkan jiwanya perlahan. Dan dalam keheningan itu, dia bertanya pada dirinya sendiri: sampai kapan ia harus tetap diam? . Aku tau, manusia, kadang seperti ruang hampa: terlihat utuh dari luar, tapi kosong di dalam - sunyi, tak bersuara, namun penuh gema luka yang tak terdengar
All Rights Reserved
#160
lonely
WpChevronRight
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • The Time
  • Tsundere Maniak Susu
  • Transmigrasi Ziora
  • I'm Not Just a Figuran
  • GHAIKA (REVISI)
  • GRAVARENZO
  • EVANESCENT (HIATUS)

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman