Asmaraloka

Asmaraloka

  • WpView
    GELESEN 1,984
  • WpVote
    Stimmen 102
  • WpPart
    Teile 12
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert Sa., Apr. 11, 2026
"Baginya wayang dan gamelan adalah jantung nadinya. Tapi bagiku, wayang dan gamelan sebagai pesan diplomasi.'' -Pinanggih Kahiyang Ayu Anantari, Berawal saat masa remajanya menyukai sejarah dari pecahan kerajaan islam yang ada di jawa, hingga bertemu dan menjalin hubungan yang sering disebut sebagai 'cinta monyet', dan akhirnya kandas dipertengahan. Membuat kisah baru dimasa depan. Pertemuan tak sengaja karena Kahiyang ada tugas diplomasi untuk meneliti, malah berujung dengan terulangnya masa lalu. Akankah keduanya berakhir bahagia? *** Noted! CERITA INI FIKSI! TIDAK ADA SANGKUT PAUTNYA DALAM SEJARAH. BIJAK DALAM MEMBACA! SELAMAT MEMBACA🤍
Alle Rechte vorbehalten
#8
surakarta
WpChevronRight
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • Nararya
  • Kena---nga: Mbalung Janur
  • BE YOURS : The Sun | Jingga Untuk Judith
  • Asmaraloka yang Amerta
  • Asmaralelana(SELESAI)
  • Our Love (sekuel Abhi - Ayra)
  • ANTARA
  • LOVE, AGAIN (END)
  • What About Us ? [✔]
  • AMANJIWO 2 : Kisah Untuk K
Nararya

Clearesta Nararya Dawson tak menyangka, status fresh graduate dan pengangguran membuat hari-harinya terasa kosong sampai ia menemani mamanya kontrol ke rumah sakit. Di ruang tunggu onkologi, ia hanya berniat menunggu. Tapi semua berubah saat pintu terbuka, dan seorang dokter keluar dengan jas putih dan tatapan tajam penuh wibawa. dr. Kael Frederick Tjandranegara, Sp.B.Onk. Nama itu tertera jelas di dadanya dan sejak pandangan pertama itu, Clearesta tahu, hidupnya tak akan sesunyi kemarin. ----- "Aku hanya ingin menunggu. Duduk manis, temani Mama kontrol, lalu pulang. Aku bahkan tak berharap hari ini berbeda. Tapi saat dokter itu keluar dari ruangan, tenang, tajam, dan terlalu berwibawa untuk dunia seberantakan ini, dadaku seolah lupa cara bernapas. dr. Kael Frederick Tjandranegara, Sp.B.Onk. Nama itu tersemat di dadanya. Dan entah kenapa... rasanya akan menetap di kepalaku agak lama." " Aku hanya dokter. Dia hanya keluarga pasien. Harusnya biasa saja. Tapi hari ini, rasanya tidak." ----- Copyright 2025 @sereiiaaa_

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien