21 partes Continúa Ikbal selalu merasa hidupnya seperti kaca.
Tak boleh retak.
Tak boleh tergores.
Tak boleh jatuh.
Sejak kecil, dunia di sekelilingnya terasa terlalu hati-hati. Tangannya pernah ditepis saat mencoba ikut bermain sepak bola. Lututnya dibersihkan dengan panik hanya karena lecet kecil. Makanannya ditetapkan, jadwal hidupnya diatur. Tubuhnya dijaga seperti sesuatu yang mahal, atau mungkin rapuh.
Ia mengira itu adalah cinta.
Arlo dan Luna selalu tersenyum padanya dengan mata yang lelah. Putri, kakaknya selalu menggenggam tangannya terlalu lama, seolah takut kehilangan.
Rumah mereka dipenuhi suara mesin medis dan doa-doa yang diucapkan pelan saat malam.
Ikbal tumbuh dengan satu keyakinan sederhana, ia adalah anak yang beruntung karena masih sehat.
Sampai suatu malam, saat hujan mengetuk jendela kamarnya seperti ingin membocorkan rahasia, ia menemukan map cokelat tersembunyi di laci yang tak pernah boleh ia buka.
Di sana tertulis namanya.
Disertai istilah-istilah medis yang dingin. Tapi, terdengar seperti perencanaan.
Ia membaca ulang satu kalimat yang membuat dadanya terasa kosong,
"Tujuan konsepsi, donor yang kompatibel."
Untuk pertama kalinya, Ikbal tidak merasa seperti anak kesayangan lagi. Ia kini merasa seperti jawaban atas sebuah masalah.
Dan yang paling menyakitkan bukanlah kenyataan bahwa ia diciptakan untuk menyelamatkan kakaknya.
Melainkan kesadaran perlahan bahwa semua larangan, semua perhatian, semua pelukan, mungkin bukan untuk melindunginya. Melainkan untuk menjaga agar ia tetap utuh.