Selalu ada sosok hitam yang terlihat ketika seseorang akan berpulang.
Setidaknya, itu yang Kanaka lihat. Dua hingga tiga bulan, sosok itu muncul, Seolah memperhatikan dari kejauhan. Hari ke hari, sosok tersebut semakin mendekat, hingga tiga hari di waktu terakhir, sosok itu menghilang. Berakhir dengan keberadaannya yang muncul di detik terakhir kehidupan orang tersebut.
Sialnya, Kanaka menangkap sosok tersebut di belakang sang ayah setelah dua puluh tahun keduanya tidak saling bertemu. Awalnya, Kanaka tidak dapat berbicara sama sekali. Bibir yang seolah terkunci, ingatannya melayang pada sosok yang muncul di belakang bunda satu tahun yang lalu. Seperti ada sesuatu yang menekan tombol hitung mundur, hingga kemudian kesedihan seolah menekan dada. Rasa sesal yang tiba-tiba muncul karena tidak pernah sekalipun menanggapi pesan sang ayah ikut mendesak.
Namun, saat ayah berbicara mengenai keinginan terakhirnya, semua seolah menguar begitu saja.
Ah, orang tua sialan.
Usia Bryatta bahkan belum genap tiga tahun, namun hidup telah memaksanya tumbuh dewasa sebelum waktunya. Baginya, panti asuhan bukan sekadar tempat tinggal, melainkan pengingat akan penolakan yang berulang. Setiap kali pintu harapan terbuka melalui adopsi, setiap kali itu pula ia dikembalikan layaknya barang yang cacat.
Kini, di balik sepasang mata kecilnya, tidak ada lagi binar harap akan hangatnya pelukan orang tua. Bryatta berhenti bermimpi. Namun, di tengah keputusasaan yang sunyi itu, mungkinkah masih ada satu ruang bernama 'rumah' yang benar-benar mau menerimanya tanpa syarat?
Start : 2 Juni 2025
Finish : -