Selalu ada sosok hitam yang terlihat ketika seseorang akan berpulang.
Setidaknya, itu yang Kanaka lihat. Dua hingga tiga bulan, sosok itu muncul, Seolah memperhatikan dari kejauhan. Hari ke hari, sosok tersebut semakin mendekat, hingga tiga hari di waktu terakhir, sosok itu menghilang. Berakhir dengan keberadaannya yang muncul di detik terakhir kehidupan orang tersebut.
Sialnya, Kanaka menangkap sosok tersebut di belakang sang ayah setelah dua puluh tahun keduanya tidak saling bertemu. Awalnya, Kanaka tidak dapat berbicara sama sekali. Bibir yang seolah terkunci, ingatannya melayang pada sosok yang muncul di belakang bunda satu tahun yang lalu. Seperti ada sesuatu yang menekan tombol hitung mundur, hingga kemudian kesedihan seolah menekan dada. Rasa sesal yang tiba-tiba muncul karena tidak pernah sekalipun menanggapi pesan sang ayah ikut mendesak.
Namun, saat ayah berbicara mengenai keinginan terakhirnya, semua seolah menguar begitu saja.
Ah, orang tua sialan.
Secarik kertas buram menuturkan kisah Lentera Mirja Wiradharma, pria dua puluh lima tahun yang menulis duka dan harap di atas lembar kehidupan yang lusuh.
Di tengah reruntuhan keluarga, ia memilih bertahan demi adik yang menjadi sisa cahayanya. Dalam setiap tinta yang ia toreh, tersimpan satu impian, yaitu keinginan untuk berjumpa kembali dengan ibu yang sudah lama tidak dirinya temui.
@aksara_salara
#081125