Tumbuh di Antara Amarah dan Takdir

Tumbuh di Antara Amarah dan Takdir

  • WpView
    Reads 2,701
  • WpVote
    Votes 541
  • WpPart
    Parts 24
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 3, 2026
Hinata Hyuga, mahasiswi tahun terakhir yang terlalu lembut untuk dunia sekeras ini. Sementara Sasuke Uchiha, CEO muda berusia 30 tahun yang dikenal dingin, perfeksionis, dan sedikit... narsis. Pertemuan mereka terjadi bukan karena takdir manis melainkan karena secangkir kopi dan sepatu yang terikat longgar. Satu insiden kecil membuat dua dunia bertabrakan: gadis polos yang sedang stres oleh tugas akhir, dan pria yang belum bisa menata hatinya sendiri. Namun siapa sangka, benturan itu justru menjadi awal dari kisah yang tak pernah mereka bayangkan. Kadang, cinta datang bukan dengan bunga... tapi dengan buku tebal yang dilempar tepat ke wajah. "Dasar bocah bodoh, apa kau pikir semua pria akan jatuh hati hanya karena kau bilang maaf, HAH!?" "Dan apa kau pikir semua gadis ingin membuat paman narsis sepertimu jatuh cinta?" SASUHINA
All Rights Reserved
#939
romancefanfiction
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Prahara Lamaran [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Nakula
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Kembang Desa
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Salah Status

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines