Ezhar Careem, seorang pria pendiam berusia akhir dua puluhan, hidup di antara tumpukan dokumen dan layar komputer perusahaan penerbit tempat ia bekerja. Hari-harinya berulang tanpa makna-pagi dengan kelelahan yang sama, siang dengan suara kantor yang menyesakkan, dan malam yang sunyi di apartemen luas yang tak punya isi selain meja kayu dan lampu belajar yang nyalanya hampir padam.
Satu-satunya hal yang membuatnya merasa masih hidup hanyalah puisi-puisi yang ia tulis namun tak pernah ia bagikan, seolah setiap kata adalah rahasia yang hanya dimengerti dirinya sendiri.
Namun segalanya berubah ketika ia melihat seorang wanita misterius di bus yang sama dalam perjalanan pulang. Wanita itu mengenakan topi dan masker, tapi sepasang matanya-gelap, indah, dan sedikit sipit dengan tahi lalat kecil di bawah mata kiri-meninggalkan gema yang tak bisa Ezhar redam.
Pertemuan singkat itu menjadi obsesi yang lembut namun membunuh perlahan. Ia mulai menunggu di halte yang sama setiap sore, menulis puisi tentang wanita itu setiap malam, dan menatap dunia dengan harapan yang samar-bahwa mungkin, suatu hari, mereka akan kembali bertemu.
Tapi semakin lama Ezhar mencari, semakin ia tenggelam dalam labirin perasaannya sendiri. Antara kesepian yang telah menjadi rumah dan cinta yang tak pernah berwujud, ia mulai kehilangan batas antara realitas dan khayalan.
Apakah wanita itu benar-benar ada, atau hanya cerminan dari dirinya yang ingin dicintai?
Dalam dunia yang dingin dan tak berhenti berjalan, "Somewhere, nowhere." adalah kisah tentang seorang pria yang menulis untuk mengingat seseorang yang mungkin hanya hidup di dalam puisinya sendiri-tentang cinta yang tidak berani mengetuk pintu dunia nyata, dan kesunyian yang begitu dalam hingga terasa seperti takdir.
Kania Sekar Melati gadis berusia 20 tahun itu harus putus kuliah, dan bekerja di sebuah rumah mewah milik duda kaya beranak satu yang bernama Bagas Adipati Wiratmodjo. Keputusan itu dilakukan tanpa sepengetahuan keluarganya.
Sampai ketika akhirnya ia mendapati situasi yang mendesaknya. Ia di hadapkan dengan tawaran yang membuatnya tak bisa berpikir banyak.
Akhirnya ia memutuskan hal yang tak pernah ia bayangkan ketika harus menerima tawaran untuk menjual dirinya pada Bagas Adipati Wiratmodjo.