Velvet Silence

Velvet Silence

  • WpView
    LECTURI 174
  • WpVote
    Voturi 9
  • WpPart
    Capitole 4
WpMetadataReadÎn curs de desfăşurare
WpMetadataNoticeUltima publicare lun, noi 10, 2025
Harusnya semua berakhir saat topi toga terlempar ke udara - bersamaan dengan perasaanku yang dulu sempat kuungkap di hari wisuda. Namun takdir rupanya menyukai ironi. Bertahun kemudian, aku kembali menatapnya, kali ini bukan sebagai teman kelas selama 4 tahun, namun sebagai wedding organizer di hari pertuangan hingga pernikahannya nanti. Ia berdiri di hadapanku dengan senyum segaris di permukaan, tapi matanya... tak seterang dulu. Ada sesuatu yang bersembunyi di sana. Dengan tenang, kuperbaiki kerah jasnya. Sentuhan kecil itu seharusnya biasa saja sebagai seorang profesional dengan kliennya, tapi ada sesuatu di udara - diam, tegang, dan mendebarkan. "Tersenyumlah, ini hari bahagia," ucapku lembut, menjaga nada tetap tenang. Ia menatapku beberapa detik sebelum berkata pelan, "Apa perasaanmu masih seperti dulu?" seketika aku mati kutu, tubuhku membeku dengan pertanyaan yang di ajukannya tanpa bisa ku prediksi _Beberapa jarak terlalu dekat untuk disebut aman_ Noveera _Mungkin keadaan ini salah, Tapi bagiku keberadaannya adalah benar_ Firgo
Toate drepturile rezervate
#23
fiksiromantis
WpChevronRight
Alătură-te celei mai largi comunități de povestiri din lumePrimește recomandări personalizate de povești, salvează-ți favoritele în biblioteca ta și comentează și votează pentru a-ți dezvolta comunitatea.
Illustration

S-ar putea să-ți placă și

  • Nala dan Mas Juragan
  • Kembang Desa
  • Salah Status
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Nakula
  • Prahara Lamaran [END]
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Mai multe detalii
WpActionLinkLinii directoare referitoare la conținut