Game of Hearts

Game of Hearts

  • WpView
    Reads 259
  • WpVote
    Votes 21
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadMatureComplete Thu, Oct 23, 2025
Genre: Romance • Campus Life • Slow Burn • Chat Romance Latar: Kota besar - Universitas Suka Wacana - tahun pertama kuliah. Suasana hangat, ramai, tapi penuh ruang sepi di antara keramaian. Anisa Raelyn Azzahra, gadis ambivert yang suka keramaian tapi juga nyaman dalam kesendiriannya, memulai hari-hari barunya di kampus dengan semangat yang biasa-sampai sebuah pertemuan kecil dengan Leo Rasyid, cowok soft-spoken yang terkenal playboy, membuat segalanya terasa... berbeda. Dari chat receh yang nggak penting, jadi candaan yang ditunggu. Dari senyum tipis, jadi degupan yang sulit dijelaskan. Tapi di tengah "Game of Hearts" antara mereka, muncul Ikrar, cowok extrovert budak cinta yang nggak pernah belajar dari luka, dan Jella, sahabat manis yang juga punya rahasia di balik senyumnya. Antara gengsi, rasa penasaran, dan ketakutan untuk mengakui perasaan sendiri-mereka semua sedang memainkan permainan yang sama: permainan hati. Dan dalam permainan ini, nggak ada yang tahu siapa yang benar-benar jatuh cinta... dan siapa yang cuma main-main.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Almost Married (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • De Andere Weg (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Last Yes!
  • Chasing Sanara
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines