Di batas senja yang memudar, Rayan Ilham Alfarez menulis puisi untuk seseorang yang tak pernah ia temui. Setiap hurufnya lahir dari rindu yang tak punya asal, dari suara lembut yang memanggil namanya entah dari mana. Hingga pada suatu sore, ia melihat siluet perempuan itu-Safira Elara Nayyirah-berdiri di bawah langit jingga, seolah menjawab semua sunyi yang selama ini bersarang di kepalanya. Tapi setiap kali ia mendekat, Elara lenyap, meninggalkan aroma hujan dan jejak yang tak bisa difahami oleh logika.
Apakah Elara benar-benar ada, atau hanya ilusi yang tumbuh dari kesepiannya sendiri? Saat Rayan terjebak di antara kenyataan dan bayangan, Mira-gadis yang mencintainya dalam dunia nyata-berusaha menggenggamnya sebelum ia tenggelam sepenuhnya ke dalam mimpi. Sementara Aidan, sahabatnya, mencatat segala keganjilan dengan tangan bergetar, takut kehilangan Rayan pada dunia yang ia ciptakan sendiri.
Dalam kisah ini, rindu menjadi doa yang tak pernah selesai. Sebuah perjalanan tentang cinta yang tak semestinya hadir, namun tetap tumbuh di ruang kosong antara jiwa dan kenangan.
"Asytaqu Ilayki - aku merindukanmu, bahkan sebelum tahu siapa dirimu."
All Rights Reserved