We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
All About Rain

All About Rain

  • WpView
    Reads 326
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadComplete Wed, Oct 14, 2015
WpInfo
Fiction
Romance
"Bella tunggu." Apa-apaan ini. Dia memegang tanganku. Jantung berdetak sangat cepat, matanya yang menatapku membuat perutku merasa geli. Aku kan tidak suka ditatap. Rizky menarik daguku, wajahnya mendekat, sedetik kemudian dia mencium keningku. Aku benar-benar tidak tau harus apa. Dia melepaskan ciumannya, aku kehabisan nafas. "Kalau masih sakit, sebaiknya kamu dirumah dulu. Sudah sana masuk, ibumu pasti semakin khawatir." -Happy Reading-
All Rights Reserved
#92
complicated
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Rogue Hellion - #bountyhunterseries 2.0 [✓] 🔚
  • Still With You
  • Love Is You (Tamat)
  • Mpreg Story
  • accident
  • BSD X MHA CROSSOVER (Versi Indonesia)
  • Duke, Please Stop Because it Hurts
  • Suami Sempurna 21 +
  • thank you my sky
  • Pretty Boy But Cool~

18+ ONLY Sequel of "THE DAMN DEMIGOD" This is an Action - Romance story with Mature content Be WISE reader - bijaklah dalam memilih bacaan ======================================= "Kamu tidak boleh pergi." Itu hal konyol! Aku masih terdiam menatap wajahnya yang sialnya selalu terlihat tampan dalam keadaan apa pun. See, bahkan sekarang tidak ada apa pun yang menutup tubuh atasnya tidak mengurangi ketampanannya sedikit pun. Oh, no, mungkin itu masalahnya yang membuatku berkali-kali hilang fokus hanya karena melihat dada bidang dengan kulit liatnya. Six-pack? Sudah pasti! Tidak hanya itu, lebih ke bawah lagi, ya, V shape di bagian pangkal perut. Begitu menggoda terlihat seperti sexy super model di luar sana. Senyum tipis terlihat jelas sekarang yang membuatnya semakin terlihat tampan. D*mn! "I should go." "You still owe me." Seperti tidak peduli, aku meninggalkanya dan detik selanjutnya dia menarikku begitu saja hingga dadaku begitu rapat dengan dadanya juga tangan besarnya sudah melingkar sempurna di pinggangku. "What?" ucapku pelan. "The deal, remember?" Oh, no. Aku berusaha melupakan hal itu, namun sepertinya tidak baginya. "What?" "Sesuatu yang kamu janjikan." "What?" ucapku lagi dengan suara yang semakin pelan. Takut dia akan meminta hal itu. "Your virginity," bisiknya tepat di telingaku.

More details
WpActionLinkContent Guidelines