Eca pernah percaya bahwa rumah adalah tempat pulang.
Dan tanpa sadar, ia menjadikan seseorang sebagai atap, dinding, dan pelindungnya.
Kafa datang tidak dengan janji, hanya dengan kehadiran.
Sapaan pagi yang sederhana, panggilan malam yang sunyi tapi hangat, dan perhatian kecil yang perlahan tumbuh menjadi kebiasaan. Dari hari ke hari, mereka mengalir-tanpa status, tanpa kepastian, tapi penuh rasa yang terasa nyata.
Lima belas bulan bukan waktu yang singkat.
Dalam rentang itu, Eca belajar mencintai dalam diam, bertahan tanpa kepemilikan, dan percaya pada kata-kata yang terdengar menenangkan. Ia tumbuh bersama harapan, meski sering kali harus menenangkannya sendiri.
Namun cinta tidak selalu berjalan lurus.
Ada kebohongan yang dibungkus rapi, ada kehadiran lain yang disembunyikan, dan ada perasaan yang perlahan memudar tanpa peringatan. Saat kebenaran terungkap, Eca menyadari satu hal yang paling menyakitkan:
ia pernah menjadi rumah, tapi bukan tujuan.
Novel ini adalah kisah tentang kehilangan tanpa benar-benar memiliki.
Tentang dua orang yang saling mengenal, namun tak pernah benar-benar bersama. Tentang perempuan yang memilih pergi, bukan karena tak cinta, tetapi karena ia akhirnya belajar mencintai dirinya sendiri.
Karena tidak semua yang hangat ditakdirkan untuk menetap.
Dan tidak semua yang pergi berarti akhir dari segalanya.
Kadang, perpisahan adalah bentuk paling sunyi dari penyelamatan diri.
All Rights Reserved