Belajar dari hujan

Belajar dari hujan

  • WpView
    LECTURES 1
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Chapitres 1
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication dim., oct. 12, 2025
Hujan selalu datang setiap kali Revarlla merasa sendiri. Anak kecil berusia tujuh tahun itu belum mengerti arti kata “cerai”, tapi ia tahu rasanya kehilangan. Setiap malam ia memeluk boneka lusuh bernama Lala, satu-satunya teman yang tak pernah berteriak atau pergi. Ketika kedua orang tuanya berpisah, Revarlla dikirim tinggal bersama nenek di rumah tua yang bau kayu, tenang, tapi penuh sunyi. Di sana, ia mulai belajar arti “rumah”, “cinta”, dan “kuat” dari seseorang yang tak lagi muda tapi penuh kasih. Namun, dunia sekolah dan masa kecil tak seindah gambar di buku tulisnya. Revarlla menyembunyikan luka di balik senyum kecilnya, berpura-pura baik-baik saja agar tak ada yang bertanya. Hanya Lala dan buku catatan kecilnya yang tahu betapa beratnya jadi anak kecil yang harus mengerti hal-hal orang dewasa. “Aku nggak tahu kenapa mereka pisah. Tapi kalau cinta bisa bikin dua orang saling marah, aku lebih pilih jadi hujan — datang, menangis, lalu pergi.” Sebuah kisah tentang kehilangan, penerimaan, dan keberanian seorang anak untuk bertumbuh di tengah badai yang tak pernah ia minta. Karena kadang, mereka yang paling sunyi adalah yang paling berjuang untuk tetap tersenyum.
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Blueprint Pelarian Villain
  • Transmigrasi Ziora
  • Tsundere Maniak Susu
  • EVANESCENT
  • GHAIKA (REVISI)
  • GRAVARENZO
  • The Time
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • I'm Not Just a Figuran

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu