Garam Laut

Garam Laut

  • WpView
    Membaca 222
  • WpVote
    Vote 65
  • WpPart
    Bab 21
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Jum, Nov 7, 2025
WpInfo
Fiksi
Romansa
Rate 15+ Hujan sore itu bukan cuma membasahi jalanan, tapi juga menumbuhkan sesuatu yang belum pernah Yuna rasakan degup asing yang muncul setiap kali Zen menatapnya dari balik kaca mobil. Yuna cuma gadis biasa yang lebih suka diam dan menghindar dari drama sekolah. Tapi semuanya berubah sejak malam hujan itu, saat Zen cowok paling sulit didekati di sekolah tiba-tiba menawarinya tumpangan. Sejak saat itu, rumor mulai menyebar. Tentang Zen yang katanya berubah, tentang Yuna yang "beruntung," dan tentang sesuatu yang mungkin tumbuh di antara keduanya. Tapi tidak ada yang tahu, di balik senyum Zen yang tenang dan kata-kata singkatnya, ada masa lalu yang asin seperti garam laut yang belum benar-benar larut. Dan Yuna, tanpa sadar, mulai terseret dalam ombak itu. Apakah ini hanya kebetulan di bawah hujan, atau memang semesta sedang menulis cerita mereka? Btw, cerita ini ada bahasa Jawa sehari yang mungkin akan terucap oleh salah satu tokoh.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#888
cerewet
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • GHAIKA (REVISI)
  • GRAVARENZO
  • Transmigrasi Ziora
  • Tsundere Maniak Susu
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • I'm Not Just a Figuran
  • The Time
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan