Garam Laut

Garam Laut

  • WpView
    Reads 190
  • WpVote
    Votes 65
  • WpPart
    Parts 21
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Nov 7, 2025
Rate 15+ Hujan sore itu bukan cuma membasahi jalanan, tapi juga menumbuhkan sesuatu yang belum pernah Yuna rasakan degup asing yang muncul setiap kali Zen menatapnya dari balik kaca mobil. Yuna cuma gadis biasa yang lebih suka diam dan menghindar dari drama sekolah. Tapi semuanya berubah sejak malam hujan itu, saat Zen cowok paling sulit didekati di sekolah tiba-tiba menawarinya tumpangan. Sejak saat itu, rumor mulai menyebar. Tentang Zen yang katanya berubah, tentang Yuna yang "beruntung," dan tentang sesuatu yang mungkin tumbuh di antara keduanya. Tapi tidak ada yang tahu, di balik senyum Zen yang tenang dan kata-kata singkatnya, ada masa lalu yang asin seperti garam laut yang belum benar-benar larut. Dan Yuna, tanpa sadar, mulai terseret dalam ombak itu. Apakah ini hanya kebetulan di bawah hujan, atau memang semesta sedang menulis cerita mereka? Btw, cerita ini ada bahasa Jawa sehari yang mungkin akan terucap oleh salah satu tokoh.
All Rights Reserved
#695
osis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Time
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • Tsundere Maniak Susu
  • Transmigrasi Ziora
  • GHAIKA (REVISI)
  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • I'm Not Just a Figuran
  • GRAVARENZO
  • Blueprint Pelarian Villain
The Time

Tiga tahun Jeselyn Ananta menghabiskan waktunya mengejar bayang-bayang tunangan nya, Leon Gamalio. Baginya, Leon adalah segalanya. Namun, malam itu mengubah segalanya. Hantaman keras sebuah truk di persimpangan jalan gelap membuat nya berada di ambang maut, dalam koma yang panjang, jiwa Jeselyn melayang masuk ke sebuah masa depan yang tak pernah ia bayangkan. Ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih dewasa, lebih rapuh, dan hancur di tengah kemewahan sebuah rumah megah. "Mau ke mana lagi?" tanya Jeselyn masa depan dengan suara serak akibat tangis. "Menemani wanita yang sedang mengandung anakku," jawab Leon dingin, tanpa sedikit pun menoleh. Kenyataan pahit itu menghujam jantung Jeselyn. Pernikahan yang ia impikan ternyata hanyalah penjara tanpa cinta.

More details
WpActionLinkContent Guidelines