Judul sementara: "Terlambat menyadari
Ana selalu jadi pusat perhatian, tapi bukan karena ia berusaha. Ada sesuatu dalam dirinya-tatapan yang selalu menahan jarak, senyuman yang menggantung seperti ada luka yang sengaja ia sembunyikan. Ia bukan tidak bisa jatuh cinta... ia hanya takut salah lagi.
Tapi ada satu orang yang ia abaikan justru yang paling tulus. Yang tidak memaksanya tertawa, tidak berusaha terlihat hebat. Yang hanya ada... dengan caranya yang sederhana.
Awalnya Ana tidak peduli. Namun lama-lama, keberadaannya justru jadi hal yang membuatnya merasa tenang. Dia bukan tipe yang menuntut. Tapi justru itu yang membuat Ana perlahan goyah. Ada ruang kosong di dalam dirinya yang tiba-tiba terisi, dan itu menakutkan sekaligus membuat candu.
Setiap kali Ana mencoba mendekat, ada suara kecil dalam dirinya yang bertanya,
" 𝗸𝗮𝗹𝗮𝘂 𝗮𝗸𝘂 𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗹𝗮𝗴𝗶? 𝗸𝗮𝗹𝗮𝘂 𝗮𝗸𝘂 𝗸𝗲𝗵𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗹𝗮𝗴𝗶? "
Dan dia pun menahan langkah.
Sampai pada akhirnya... ketika Ana sudah siap membuka sedikit pintu hatinya-dia justru mulai menjauh. Bukan karena benci, tapi mungkin lelah menunggu seseorang yang terlalu lama ragu.
Di titik itu, penyesalan datang diam-diam. Tidak meledak, tidak dramatis. Justru terasa lebih sakit karena sunyi. Ana hanya bisa menatap punggung seseorang yang dulu bisa ia miliki... kalau saja ia lebih berani.
"𝗸𝗲𝗻𝗮𝗽𝗮 𝗮𝗸𝘂 𝗯𝗮𝗿𝘂 𝗻𝘆𝗮𝗱𝗮𝗿 𝘀𝗲𝗸𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴? "
batinnya berulang-ulang, seperti lagu yang ia benci tapi tak bisa ia hentikan.
Dan kini, di balik senyum yang ia tunjukkan ke dunia, ada luka kecil yang terus mengintip-luka karena menyadari bahwa rasa yang datang terlambat selalu paling menyakitkan.
Pada akhirnya, hanya satu hal yang tersisa...
" 𝘀𝗶𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿𝗻𝘆𝗮
𝗸𝗲𝗵𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 "
All Rights Reserved