Kunci Nomor 3

Kunci Nomor 3

  • WpView
    Reads 21,482
  • WpVote
    Votes 628
  • WpPart
    Parts 58
WpMetadataReadComplete Mon, Nov 10, 2025
Ujian untuk seorang istri adalah ketika suami tidak mempunyai apa-apa. Sedangkan Ujian suami adalah ketika ia memiliki segalanya. Mungkin pepatah inilah yang cocok untuk menggambarkan kehidupan rumah tangga Surya dan Ratna. Ketika ekonomi mulai membaik, Surya mulai bermain api dengan Maya. Lalu, bagaimana Ratna menghadapi badai rumah tangganya? akankah Ratna mempertahankan rumah tangganya demi buah hati, atau justru mengikhlaskan Surya?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kita Bertemu Kembali
  • The Past (Tamat) ✓
  • Had No Choice (Completed)
  • Rehat
  • Ranting Kering  (END)
  • Luka dan Obatnya
  • Temaram Itu Merindukan Cahaya
  • Cinta Sendiri ( tersedia ebook)
  • Jejak Luka di Hati Nara
  • Val(l) For Mars [TELAH TERBIT]

Katanya kalau kita sudah selesai dengan seseorang, mau sedekat apapun kita dengan seorang itu maka Semesta akan memiliki caranya tersendiri untuk tidak mempertemukan kita dengan orang tersebut, tapi nyatanya Angger bertemu dengannya lagi. Wanita itu, sosok yang ternyata menjadi dokter baru di Klinik tempatnya bertugas, yang sudah tidak Angger lihat selama 11 tahun, Angger melihatnya kembali, wanita itu menggunting pakaiannya, memeriksa luka yang ada di perutnya mengobatinya dan menjahitnya dengan cepat. Anindya, ya itu nama dokter cantik yang kini mengurusnya, wanita itu masih sama cantiknya sama seperti yang Angger ingat dalam versi yang lebih dewasa, takdir mempertemukan mereka kembali bahkan tanpa ada rencana dan spoiler sedikit pun, bibir Angger terkunci rapat, duda tanpa anak itu bahkan tidak sanggup menyapa mantan pacarnya dengan benar sampai akhirnya Anindya yang terlebih dahulu angkat bicara. "Luka tusuk, beruntung tidak terlalu dalam, pendarahan sudah dihentikan, jahitan 14, dan saya akan meresepkan painkiller." Biasa saja reaksi Anindya, wanita itu bersikap seolah tidak mengenal Angger bahkan saat Angger membuka mulutnya, Anindya sudah berbalik pergi, meninggalkan Angger dengan perawat, ya selalu seperti itu, kan? Selalu Anindya yang memberikan punggungnya kepada Angger, dan ini bukan pertama kalinya, entah apa maksud semesta hingga harus mempertemukan Angger dengan Anindya kembali.

More details
WpActionLinkContent Guidelines