Ketika dunia menggempur tanpa ampun, hanya luka yang tersisa untuk dipeluk. Kanaya Pradipta Raine, gadis yang tumbuh dari reruntuhan keluarga terhormat, kehilangan segalanya sejak dari usia belia: ibunya, ayahnya, rumahnya, bahkan nama keluarganya yang dulu disanjung. bahkan mbok Tinah, pengasuh setia yang merawatnya sejak kecil. satu-satunya sosok yang dia pikir akan selalu ada akhirnya harus dipisahkan oleh kematian.
Kanaya bukan gadis yang mudah didekati. Tatapannya tajam, lidahnya jujur, dan langkahnya selalu menjaga jarak. Dulu, ia pernah punya sahabat bernama Erika-sosok yang terang benderang dalam hidupnya yang kelam. Tapi waktu dan tragedi memisahkan mereka.
Takdir mempertemukan mereka kembali, dan Erika memperkenalkan seorang pria ke dalam hidup Kanaya: Rakael Von Falkenhayn. Tampan. Dingin. Penuh wibawa. Namun di balik setelan mewah dan sikap tenangnya, Kanaya melihat sesuatu yang familiar-kehampaan. Tatapan kosong seorang yang sudah lama hidup berdampingan dengan luka.
Rakael adalah pria yang belajar menikmati rasa sakit, sementara Kanaya adalah perempuan yang selama ini berusaha bertahan darinya. Hubungan mereka tidak manis. Tidak mudah. Tapi dari sana, tumbuh benih yang asing: pengakuan. Bahwa mereka saling memahami, bahkan tanpa kata.
Ini bukan kisah cinta yang hangat. Ini adalah kisah tentang dua jiwa yang rusak, saling melukai, lalu perlahan... saling menyembuhkan. Dalam dunia yang tak menawarkan belas kasihan, mungkinkah luka bertemu luka, dan tetap memilih tinggal?
Todos los derechos reservados