Before I Go

Before I Go

  • WpView
    Reads 35
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadMatureOngoing34m
WpMetadataNoticeLast published Thu, Oct 23, 2025
"Terima kasih banyak ya, udah nolongin tante. Duh, coba kalau nggak ada kamu, pasti barang-barang tante udah hilang semua!" Tante itu tersenyum lega. "Eh, ngomong-ngomong... kamu mau nggak sama anak tante? Cakep, lho!" Zetta terkekeh pelan. "Ah, makasih tan... Tapi aku belum kepikiran punya cowok. Lagi pusing sama magang dan tugas kuliah." Jawabnya sambil memelas. Arzetta Sakya Kalingga, 21 tahun. Mahasiswi semester 5 di salah satu universitas swasta Jakarta. Sedang sibuk magang demi nilai. Biasa dipanggil Zetta, gadis mungil berkulit putih, rambut sebahu hitam pekat, dan penuh kejutan. Lucu, rame, dan... jago bela diri! Karate dan silat? Dia kuasai semua. --- Sementara itu... "Gw pusing, nyokap gw nyuruh nikah terus," keluh Niskala. "Ya nikahin aja Emily, cewek lo." "Masalahnya, keluarga gw nggak setuju. Mereka bilang Emily nggak baik buat gw. Tapi gw sayang banget sama dia." Niskala menghela napas. Frustrasi. Langit Niskala Pradipta, 25 tahun. Anak bungsu dari tiga bersaudara, pewaris perusahaan papahnya. Pribadi dingin, cerdas, dan tertutup. Tapi hatinya milik Emily, perempuan yang dicintainya sepenuh hati meski ditentang keluarganya. --- Akankah Niskala tetap memilih Emily, perempuan yang dicintainya mati-matian? Atau... takdir akan mempertemukannya dengan Zetta, gadis asing yang tanpa sengaja ditemui oleh mamahnya di tengah kejadian tak terduga?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALEA: Gerbang Ketiga-Di Balik Pintu Tak Bernama
  • MOONLIGHT (BUKU KEDUA) [COMPLETED ✅]
  • Di sebalik layar
  • 𝐔𝐒𝐓𝐀𝐙 𝐃𝐀𝐘𝐘𝐀𝐍 𝐙𝐈𝐐𝐑𝐈
  • Penghulu Bidadariku S2 : Aisyah Humaira
  • SIAPA? |✓|
  • Dari Benci Jatuh Ke Sayang [Completed]
  • Di Bawah Cahaya Lampu Kota
  • BENAR UNTUKMU [C]

Hujan jatuh di kota itu seperti benang tipis dari langit, memantulkan lampu neon yang berkedip lelah. Di persimpangan jalan, seorang lelaki berdiri dengan payung miring. Matanya mengikuti sosok perempuan yang berjalan cepat, menunduk, seolah menghindari dunia. Ia tak mengenalnya. Tapi jantungnya memukul seperti lonceng tua yang pernah ia dengar di tempat yang tak pernah ada di peta. Pasar malam di pusat kota menyala dengan warna-warna hangat, tapi suara penjualnya lenyap. Lampion bergoyang tanpa angin. Dan di sela-sela kerumunan yang tiba-tiba membeku, mata perempuan itu-mata yang sama seperti di hutan yang dulu ia tinggalkan-menatapnya. Di ujung sebuah lorong, bioskop tua berdiri sendirian. Dindingnya berlumut, pintunya berdebu, tapi dari celahnya keluar denyut cahaya yang tidak berasal dari proyektor. Pintu itu tidak ada kemarin. Dan besok, mungkin akan hilang lagi. Di rel kereta yang berkarat, cahaya asing turun seperti aurora yang tersesat. Bayangan-bayangan panjang menari di aspal, memanggil nama yang sudah lama tak diucapkan. Di sebuah gang buntu, sebuah toko buku yang tak pernah buka di siang hari menyimpan peta kota yang tidak pernah dicetak. Dan di bawah tanah, pasar gelap menjual kompas yang selalu menunjuk ke arah yang salah. Langit retak di atas jembatan. Retakannya halus, seperti kaca yang dicakar dari sisi lain. Di baliknya, bukan hanya bintang, tapi hutan dengan akar yang menjuntai, menggapai kota seperti jemari yang lapar. Di tengah semua itu, ia berdiri. Ia-yang dulu meninggalkan segalanya di hutan tak bernama-kini kembali, bukan sebagai Alea, tapi sebagai seseorang yang dipanggil Katiya. Ia tidak ingat siapa dirinya. Tidak tahu mengapa setiap langkahnya membuat kota ini makin kehilangan bentuk. Dan di ujung segalanya, ada pintu. Pintu yang tak bernama. Pintu yang hanya terbuka sekali-dan menuntut satu jiwa untuk menutupnya. ---

More details
WpActionLinkContent Guidelines