Dunia Hesa adalah ruang gelap yang pengap, hingga ia menemukan dua titik cahaya yang berpendar tepat di sampingnya. Bukan bintang di langit, melainkan sepasang netra milik Biru yang menatapnya begitu dalam, seolah sanggup menembus hingga ke ulu hati.
Di bawah langit Bandung yang menyimpan rahasia, Biru menyodorkan sehelai kabel bercabang, memutar melodi berjudul Anchor.
"Dengarkan, Sa," bisik gadis itu. Suara yang selalu sanggup menghentikan rotasi dunia Hesa dan memaksanya terpaku hanya pada satu poros.
"Hiduplah untuk bahagiamu sendiri, Sa. Sampai kapan kamu harus menjadi jangkar bagi kapal-kapal yang bahkan tidak tahu mereka berlayar untuk siapa?"
Hesa tersenyum getir, menatap punggung Haru dan Hera di kejauhan. "Aku nggak sedang menjadi jangkar, Biru. Aku adalah kapal yang seluruh muatannya adalah mereka. Ke mana pun mereka pergi, itulah tujuanku. Dan jika mereka karam, aku pun tak punya alasan untuk tetap mengapung."
Biru menghela napas panjang. Mereka bertemu di garis cakrawala yang indah, seindah binar matanya yang kini meredup. "Hesa, sekali ini saja. Pikirkan dirimu. Kebahagiaanmu. Masa depanmu."
"Sudah," jawab Hesa singkat. "Masa depanku adalah mereka, Biru. Bukan aku."
Detik itu juga, kapal Hesa seolah menghantam karang. Biru melangkah pergi, meninggalkan Hesa yang memilih karam dalam pengabdiannya. Ia pergi karena tak lagi menemukan jejak "Hesa" di dalam diri laki-laki yang telah habis terbakar demi menghangatkan orang lain.
All Rights Reserved