Bandung tidak pernah sekadar titik hitam di atas peta geografi bagi Narendra dan Xeyra. Kota ini adalah rumah, saksi bisu seragam putih-abu-abu, dan tempat di mana sebuah janji sakral ditandatangani di bawah gerimis tipis Jalan Dago. Namun, kedewasaan memaksa garis hidup mereka melar melampaui batas kota. Xeyra terbang mengejar mimpi di tengah kerasnya beton ibu kota Jakarta, sementara Narendra memilih bertahan bersama motor bebek tua dan idealisme arsitekturnya di tanah Parahyangan. Tiga tahun terpisah jarak 150 kilometer, benteng kesetiaan mereka tidak hanya diuji oleh sunyinya waktu. Kehadiran Aditya-sosok necis penolong Xeyra di pusaran karier Jakarta, tekanan restu orang tua yang menuntut kepastian finansial, hingga panggilan karier global ke Jenewa, Swiss, perlahan-lahan menciptakan retakan tak kasat mata di dalam hati mereka. Ini adalah sebuah memoar fiksi tentang jarak yang mendewasakan, pengorbanan yang tak terucap, dan sebuah kebenaran mutlak: bahwa sejauh apa pun burung terbang mengejar langit yang tinggi, ia akan selalu tahu jalan pulang ke koordinat terbaiknya.
More details