Dua Cahaya Yang Kupanggil Adik

Dua Cahaya Yang Kupanggil Adik

  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Oct 16, 2025
Bintang bintang menghiasi malam di kota Embun. Rintik hujan juga turut menambah suasana syahdu di malam itu. Derap langkah kaki kecil berlarian seperti melodi indah yang ada di dalam rumah kecil di pinggir jalan. Seakan tak peduli akan dinginnya malam, tawa riang mereka bersahut sahutan disertai celotehan dengan pelafalan belum sempurna. Menghiraukan dua gelas susu hangat yang sudah tersaji di depan mereka. Candaan mereka terhenti saat lampu kamar sudah dimatikan oleh sang tertua, digantikan dengan cahaya lampu tidur yang remang. Ketakutan karna gelap, membuat mereka berlari menuju sang tertua yang sudah ada di atas ranjang. Mengadu pada sang tertua jika mereka takut akan gelap. "Makannya cepet minum susunya, abis itu langsung bobo. Kalian ga mau di makan monster kan?" "ENGGA MAU!" Di balik kelamnya malam, di balik kejamnya dunia, mereka adalah dua cahaya kecil yang menemani perjalanan sang kakak. Tak peduli rintangan apa yang akan datang, sang kakak akan tetap merasa aman selama ia bersama dua cahaya kecilnya. "Kami sayang abangg!"
All Rights Reserved
#35
tbhk
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "Beneath Her Forbidden Touch"[END]
  • karakter kecil ini mengasuh keluarga iblis?! {S2}
  • Chana's Transmigrasi
  • BACKSTREET
  • Mission
  • REGAN's Crazy Wife
  • Change The Plot (Niel)
  • Drama di Pintu Kosan

Elara Vionette tidak pernah mempertanyakan pekerjaan ibunya. Baginya, Livia Asteria hanyalah seorang pelayan yang pulang setiap malam dengan tubuh lelah dan senyum lembut. Sampai suatu hari, ibunya jatuh sakit. Dan Elara diminta menggantikannya. Rumah itu besar. Terlalu besar untuk menyimpan rahasia sekecil apa pun. Pernikahan sang nyonya dan suaminya hanyalah kontrak tanpa cinta. Lorong-lorongnya dipenuhi keheningan. Dan di balik pintu hitam dengan gagang emas itu... ada sesuatu yang tak pernah Elara bayangkan. Valeria Devianne tidak pernah tertarik pada siapa pun. Dingin. Tinggi. Elegan. Tak tersentuh. Sampai ia melihat putri pelayannya. Apa yang awalnya hanya rasa ingin tahu... berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Lebih gelap. Lebih berbahaya. Karena beberapa rasa lapar tidak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya menunggu untuk diwariskan. Dan Elara tidak tahu... bahwa malam pertama ia mengetuk pintu itu, ia sedang melangkah masuk ke dalam kelaparan yang bukan miliknya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines