WERMONIQE

WERMONIQE

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 4, 2026
"daripada bapak duduk di sini mending bapak ngobrol tuh sama teman teman bapak, tenang aja..saya gak mungkin kabur bawa sweeter pinky bapak" hanya karna satu benda yang tidak ada nilai apa apa,tapi bisa menjadi jembatan untuk mendapatkan sesuatu hal yang besar...andai tidak ada adegan tabrak menabrak yang berakibat menjadi alasan dekat nya hubungan yang dulu asing,mungkin sekarang adam dan hawa ini tidak seperti sekarang ralat! hubungan dulu yang asing itu hanya sebatas bertatap singkat yang tidak disengajakan dan salah satu dari mereka seperti terkena serangan cinta pada pandangan pertama "saya tunggu..,tapi kamu tidak ingat sama sweeter pinky yang saya bawa?" "mana saya tau, apalagi ingat...bapak sama saya ni kan baru ketemu beberapa kali tuh ya mna saya tau sweeter bapak yang ngejreng " gelengan kepala menandakan tidak tau menahu" dulu sih saya punya mirip juga kaya punya bapak,sering juga kan saya bawa ke cafe cuman hilang gak mungkinkan bapak yang ambil atau jangan jangan..." "BAPAK KAN YANG NYURI SWEETER SAYA!!" bug!
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Salah Status
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Nakula
  • Prahara Lamaran [END]
  • Kembang Desa
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines