Cinta Berdarah Di Ring Gelap

Cinta Berdarah Di Ring Gelap

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 15, 2025
Keringat menetes dari pelipis Liam, pria berusia 28 tahun dengan tubuh tinggi menjulang—sekitar 197 cm—dan otot-otot yang tampak tegang di bawah kulitnya setiap kali ia mengayunkan tinju ke karung. Napasnya memburu, dada bidangnya naik turun cepat. Rambut hitamnya yang basah oleh keringat menempel di dahinya, menambah kesan garang di wajah tampannya yang keras dan tegas. Ia berhenti sejenak, mengalihkan pandangannya dari karung tinju. Otot-otot lengannya berdenyut karena pengerahan tenaga, tapi matanya justru melunak ketika melihat sosok di sudut ruangan—Arabelle. Gadis berusia 22 tahun itu duduk di kursi seperti yang Liam perintahkan. Kulitnya seputih porselen, kontras dengan rambut pirang lembut yang menjuntai hingga punggungnya. Dengan tinggi 165 cm, tubuhnya tampak mungil di hadapan sosok besar Liam. Namun wajah cantiknya kini cemberut, bibir mungilnya mengerucut karena bosan menunggu. Liam menghela napas kecil, berjalan ke arahnya sambil menyeka keringat dengan handuk. Meski keras di ring, pria itu punya sisi lembut saat menatap wanita yang dicintainya—istrinya, yang bertingkah polos seperti anak kecil karena sindrom infantilisme yang dideritanya. Setiap akhir pekan, ia selalu membawanya ke psikolog, berharap ada kemajuan kecil yang bisa membuat Arabelle lebih tenang.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Salah Status
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Nakula
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Prahara Lamaran [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines