Di antara riuh suara toa dan panas aspal yang menguap di depan Gedung Sate, Adam Jayanegara berdiri-lantang dengan yakin. Bukan karena ia pemberontak, tapi karena ia tahu, suara mahasiswa adalah detak paling jujur dari negeri yang sedang bingung mencari arah.
Namun, di balik semangat itu, ada Kamelia Djoana-gadis berwajah cantik yang selalu menunggunya di teras asrama, dengan tangan dingin menggenggam gelas susu dan hati yang diam-diam bergetar setiap kali Adam kembali dari demonstrasi dengan luka di pelipisnya.
Mereka bertemu di kaki gunung pada sebuah acara camping fakultas, dan sejak itu, cinta tumbuh di antara tenda, kopi sachet, dan lagu-lagu senja. Tapi seiring waktu, cinta yang dulu hangat mulai berubah getir.
Adam terlalu mencintai rakyatnya, sementara Lia hanya ingin dicintai seperti rakyat yang ia bela.
Ketika dunia mereka mulai berjarak-antara idealisme dan ketakutan, antara cinta dan kehilangan-pertanyaan itu kembali menggantung di antara mereka,
apa yang harus diperjuangkan jika yang kau cintai justru ingin kau lepaskan?
Writing by aironyre-2025.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang