Asmara Ditelan Samudra

Asmara Ditelan Samudra

  • WpView
    Reads 1,656
  • WpVote
    Votes 970
  • WpPart
    Parts 22
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jan 12, 2026
Seorang anak laki-laki tumbuh dalam sunyi yang panjang. Hidupnya dibalut rasa bersalah yang tak pernah benar-benar ia pahami, dipikul sendirian sejak fitnah merampas kepercayaan orang-orang di sekitarnya. Kebenaran tak pernah menemukan telinga yang mau mendengar, membuat langkahnya terbiasa berjalan sendiri, seolah dunia selalu berpaling darinya. Dalam perjalanan yang penuh sepi, anak laki-laki itu mencari satu nama dari masa lalu, sosok yang pernah memberi arti sebelum dunia terasa begitu kejam. Takdir mempertemukan kembali dua jiwa yang membawa luka masing-masing, seolah waktu sengaja mempertemukan mereka di saat yang sama-sama rapuh. Dari pertemuan itu, hangat tumbuh perlahan, menambal retak yang tak pernah sembuh sepenuhnya. °° Samudra pernah menjadi saksi tawa dan janji yang tumbuh perlahan. Namun di suatu senja, laut memilih menyimpan satu jiwa lebih lama dari seharusnya. Sejak hari itu, cakrawala terasa kosong, seolah ada nama yang hilang di antara ombak dan angin asin. Asmara yang sempat bersemi harus berhenti di batas yang tak kasatmata, meninggalkan rindu yang tak pernah menemukan pulang. Samudra tetap tenang di permukaan, sementara di kedalamannya tersimpan cinta, doa, dan satu jiwa yang tak lagi kembali. #romancetragis #laut #senja
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Tsundere Maniak Susu
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • The Time
  • GRAVARENZO
  • Blueprint Pelarian Villain
  • Transmigrasi Ziora
  • I'm Not Just a Figuran
  • GHAIKA (REVISI)
  • EVANESCENT (HIATUS)

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines