Di sebuah desa kecil menjelang Idulfitri, Tuti menjalani pagi seperti biasa-shalat subuh di mushola, menanak nasi di dapur, lalu bersiap ke sawah untuk tandur.
Namun di balik ketegaran dan senyum sabarnya, ia menyimpan rindu dan luka pada suami yang setahun tak pulang dari perantauan.
Ejekan para tetangga tentang suaminya yang mungkin tak setia, hanya ia jawab dengan diam dan doa. Hingga siang itu, kabar dari Jakarta datang-membawa berita yang tak pernah ia siap dengar: Tresno, lelaki yang dicintainya, telah pergi untuk selamanya dan dimakamkan jauh di Madinah.
Sebuah kisah sederhana tentang kesetiaan, kehilangan, dan kekuatan hati seorang perempuan desa yang belajar menerima takdir dengan lapang dada.
All Rights Reserved