RUANG KELIRU

RUANG KELIRU

  • WpView
    Reads 68
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadMatureComplete Wed, Apr 15, 2026
Ada malam-malam di mana aku sengaja membiarkan parasmu kembali memenuhi pikiranku. Malam di mana rindu terasa seperti hukuman, dan kenangan kita terus menuntut untuk diingat. Tidak ada peresmian, tidak ada kata selesai, tapi entah kenapa kehilanganmu terasa nyata. Katanya, tak semua yang indah harus diumumkan. Tapi kenapa yang diam-diam justru paling menyakitkan? Sepi datang lebih dulu daripada kabar. Dan diam itu, ternyata cara paling lembut untuk mengatakan selamat tinggal. Ini kisah tentang rasa yang tak pernah punya nama, tapi tumbuh terlalu dalam untuk dihapus. Tentang aku, kamu, dan semua yang kita simpan rapat-rapat. Tentang rindu yang tak pernah punya tempat, bahkan di dunia ini sekalipun. Seperti biasa, akan kututup kisah cintaku dengan tulisan. Kau tau tuan.. kau sedang berhadapan dengan penulis. Dan penulis selalu punya cara untuk menghidupkan kembali apa yang sudah mati - termasuk kamu, termasuk kita, di antara kata-kata yang tak pernah benar-benar selesai.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Chasing Sanara
  • Almost Married (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • De Andere Weg (END)
  • The Last Yes!
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Nala dan Mas Juragan
  • The Villain Mother

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines