Padahal pikirnya dengan kebahagiaan di rumah akan mengalir juga ke siklus pertemanan, senyum itu hilang bagaikan ditelan bumi. Hal-hal semasa menginjak sekolah menengah atas yang ia bayangkan, ternyata seburuk yang tak terpikirkan. Namun setelah melewati semua badai dan hujatan, sosok itu malah menyatakan sesuatu yang membuat hatinya berkhianat pada kokohnya tembok amarah yang ia bangun sejak pertama kali badai terjadi. "Aku... Mengkhianati diriku sendiri?"
More details