Di kota Bandung yang selalu diselimuti kabut hujan, kisah mereka tumbuh dari percikan sederhana: tawa, genggam tangan, dan janji kecil di bawah payung biru.
Elara Maresya dan Revan Ardanata - dua nama yang dulu identik dengan hujan. Ia, gadis pendiam yang menulis puisi di sela rinai. Dan dia, wakil ketua geng motor Asphalt Wolves yang bising tapi menyimpan sunyi di dadanya.
Mereka tidak pernah berani mengaku saling cinta, hanya saling menatap dan menunggu siapa yang akan kalah dari egonya lebih dulu. Tapi cinta, seperti hujan, tak selalu jatuh di waktu yang tepat.
Sampai datang seorang murid baru - Celia Anvila, gadis berwajah cahaya yang membawa badai dalam diam.
Perlahan, perhatian Revan teralihkan. Elara pun mundur, tersenyum seolah tak peduli, padahal di balik kulit pucat dan senyum tenangnya, tubuhnya sedang berjuang melawan dua hal yang tak bisa ia menangkan: lupus dan leukemia.
Hingga hujan terakhir datang.
Surat-surat yang tak pernah terkirim tiba di tangan Revan, disertai aroma bunga lili dan tinta yang nyaris pudar. Di halaman terakhir, ada kalimat sederhana yang menghancurkan segalanya:
"Kalau suatu hari hujan tak lagi datang, jangan cari aku, Van. Aku sudah jadi bagian dari langitnya."
Dan sejak hari itu, Bandung tak pernah benar-benar hujan lagi.
All Rights Reserved