Kau datang tanpa permisi,
namun entah sejak kapan, perlahan kau merebut satu per satu ruang di hidupku, hingga akhirnya berdiri di tengah, sebagai tokoh utama yang tak pernah kurencanakan.
•••
"Siapa sih?"
Kana Altera menghentikan langkahnya. Seragam putih-abunya masih rapi, rambutnya terikat sederhana, namun raut wajahnya menyimpan kekesalan kecil. Pagi itu terlalu sibuk untuk diganggu oleh seseorang yang tiba-tiba menghadang jalannya.
"Ini gue," suara itu datang begitu dekat.
"Jangan bilang lo lupa?"
Baskara Aksena mencondongkan tubuh, berbisik tepat di dekat telinganya, cukup dekat untuk membuat Kana menegang, cukup sengaja untuk memancing emosi.
Kana menoleh cepat. Tatapannya menyiratkan bingung yang bercampur jengkel, sementara Baskara justru tersenyum tipis, puas menikmati reaksi itu. Senyum yang seolah berkata: iya, gue tau lo kesel, dan gue sengaja.
"Katanya," ucapnya ringan, nyaris seperti gurauan,
"gue tokoh utama di hidup lo."
Kana terdiam sesaat. Bukan karena percaya, melainkan karena kalimat itu terasa terlalu berani untuk diucapkan, dan terlalu dini untuk disangkal.
•
•
•
Setelah badai mengoyak langit tanpa ampun,
pelangi tak pernah datang sebagai penebus luka, ia hanya hadir sebagai pengingat
bahwa gelap pernah ada,
dan warna hanya bermakna karena sebelumnya dunia runtuh dalam kelabu.
Dan mungkin,
seperti itu pula perannya di hidup Kana.
Bukan untuk menghapus luka,
melainkan mengajarinya kembali bagaimana caranya melihat cahaya.
Todos los derechos reservados