A destiny of time

A destiny of time

  • WpView
    LECTURES 232
  • WpVote
    Votes 20
  • WpPart
    Chapitres 11
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication sam., févr. 14, 2026
kala itu Arshelia tak ingat sudah berapa lama ia berjalan. Gurun tak kenal ampun, tak teduh, tak bersuara, hanya angin yang menyeret pasir di atas batu. Bibirnya pecah-pecah dan kakinya berdarah. Namun arshelia terus berjalan, menggenggam seikat kelopak teratai kering dan sekeping koin tembaga, tak berharga di desa, mungkin berharga di mata para dewa. Kuil itu awalnya tampak seperti fatamorgana. Setengah terkubur di bukit pasir, pilar-pilar batu hitamnya berkilau samar diterpa panas. Tak ada penjaga. Tak ada pendeta. Hanya keheningan dan patung di dalamnya... Tinggi, tanpa wajah, dipahat dari obsidian, berurat emas. Ia mengawasinya tanpa mata. Arshelia melangkah ke dalam bayangan kuil yang sejuk dan berlutut. Tangannya gemetar saat meletakkan kelopak bunga di kaki patung. Mereka menekan koin ke lantai dan menundukkan kepala. "Ibuku sedang sekarat..." bisiknya, suara arshelia gemetar namun lemah karena putus asa dan putus asa. "Aku tidak punya apa-apa lagi...." Arshelia tak mengharapkan jawaban. Para dewa tak berbicara kepada manusia seperti arshelia. Namun ia tetap berdoa, dengan tenang, penuh keputusasaan, menuangkan setiap kenangan tentang ibunya ke dalam keheningan. Tawanya. Lagu nina bobonya. Kisah-kisahnya tentang para dewa yang berjalan di bumi dan mendengarkan. Namun tiba-tiba udara berubah... Bergeser... Patung itu bersinar. Bayangan di belakangnya semakin dalam, terlipat bagai sutra. Kelopak-kelopak bunga menjulang dari lantai, menggantung dalam cahaya keemasan. Koin itu meleleh di udara. ...Dan di sanalah dia... Bukan patung. Bukan pula penglihatan. Seorang pria jangkung, berjubah sutra berwarna senja, kulitnya berkilau samar dengan rune yang berdenyut bagai bintang. Mata cokelatnya bertemu dengan mata Arshelia. Matanya tidak kejam. Hanya luas. Seolah ia telah melihat segalanya dan masih memilih untuk memandangnya. Dan semuanya di mulai..
Tous Droits Réservés
#772
acak
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Binar Rembulan~Transmigrasi
  • Perfect Antagonist (end)
  • KENRA; Antagonis Pengganti
  • Transmigrated as the Villainous Omega Prince [ END ]
  • The Wicked Wife's Past Strikes Back
  • When The Villain Looks at Me [END]
  • Perfect Mom, Perfect Wife
  • MORGAN
  • Trapped in a Psycopathic Novel
  • The Grand Duke Obsession (END)

(Peringatan: sebelum baca cerita ini aku cuman mau ingetin, Binar Rembulan akan berbeda dari cerita lain. Di sini akan banyak ekspetasi kalian yang dipatahkan. Dibacanya pelan² aja biar ngerti karena kebanyakan gak paham sama alurnya apalagi yg gak beli pdf atau versi novelnya.) Bulan. Tidak sesuai namanya yang menggambarkan keindahan. Nyatanya kehidupan Bulan jauh dari kata itu. Selalu mendapat kekerasan fisik dari ayahnya membuat Bulan jadi enggan untuk hidup. Bermula dari sang ayah yang menyiksanya hingga berujung kepalanya bocor, Bulan jatuh tak sadarkan diri. Namun kejutan lain datang ketika ia membuka mata. Bukan Rumah Sakit atau alam baka, Bulan malah mengalami kejadian yang menurutnya sangat di luar nalar manusia. Ia bertransmigrasi ke dalam sebuah cerita yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan. Binar Rembulan. Adalah tokoh pendukung dalam cerita Possesive Ernest. Tokoh yang Bulan masuki sekarang. Demi menjaga agar alur tidak melenceng, Bulan harus berperan sebagai Binar Rembulan yang terkenal BUCIN setengah mampus kepada Ernest-pacar satu minggunya. 💫💫💫 "Eh, Pacarnya aku udah bangun. Nih, aku bawain bekal khusus buat Pacar lope-lope," "Tadaaa! Ayam rica-rica dengan bumbu kasih sayang yang meresap di setiap dagingnya ala Binar Rembulan. Dijamin hari Pacar akan berwarna seperti 7 pelangi setelah mencicipi bekal buatan Binar." 💫💫💫 "Hadiah ulang tahun pacar adalah...." Binar sengaja menggantungkan kalimatnya dengan maksud agar membuat Ernest penasaran. "Kita putus!!! Yeayy!!! Seneng gak seneng gak? Seneng dongkkk." 👉note👈 Mungkin akan terdapat beberapa dialog atau bahasa yang bercampur baku dan non baku. Mianhae kalo kalian merasa tidak nyaman. Rank: #1 [fantasi] #1 [dunia novel] #1 [klasik] #1 [fiksisejarah] #1 [cerita pendek] #1 [sma] #1 [fantasy] #1 [isekai] #1 [teenfiction] #1 [getaran] #1 [fiksi] #1 [komedi] #1 [obsesi] #1 [posesif] #1 [laga] #1 [getaran] #1 [aksi] #1 [petualangan] #1 [acak]

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu