kala itu Arshelia tak ingat sudah berapa lama ia berjalan. Gurun tak kenal ampun, tak teduh, tak bersuara, hanya angin yang menyeret pasir di atas batu. Bibirnya pecah-pecah dan kakinya berdarah. Namun arshelia terus berjalan, menggenggam seikat kelopak teratai kering dan sekeping koin tembaga, tak berharga di desa, mungkin berharga di mata para dewa.
Kuil itu awalnya tampak seperti fatamorgana. Setengah terkubur di bukit pasir, pilar-pilar batu hitamnya berkilau samar diterpa panas. Tak ada penjaga. Tak ada pendeta. Hanya keheningan dan patung di dalamnya... Tinggi, tanpa wajah, dipahat dari obsidian, berurat emas. Ia mengawasinya tanpa mata.
Arshelia melangkah ke dalam bayangan kuil yang sejuk dan berlutut. Tangannya gemetar saat meletakkan kelopak bunga di kaki patung. Mereka menekan koin ke lantai dan menundukkan kepala.
"Ibuku sedang sekarat..." bisiknya, suara arshelia gemetar namun lemah karena putus asa dan putus asa. "Aku tidak punya apa-apa lagi...."
Arshelia tak mengharapkan jawaban. Para dewa tak berbicara kepada manusia seperti arshelia. Namun ia tetap berdoa, dengan tenang, penuh keputusasaan, menuangkan setiap kenangan tentang ibunya ke dalam keheningan. Tawanya. Lagu nina bobonya. Kisah-kisahnya tentang para dewa yang berjalan di bumi dan mendengarkan.
Namun tiba-tiba udara berubah... Bergeser...
Patung itu bersinar. Bayangan di belakangnya semakin dalam, terlipat bagai sutra. Kelopak-kelopak bunga menjulang dari lantai, menggantung dalam cahaya keemasan. Koin itu meleleh di udara.
...Dan di sanalah dia...
Bukan patung. Bukan pula penglihatan. Seorang pria jangkung, berjubah sutra berwarna senja, kulitnya berkilau samar dengan rune yang berdenyut bagai bintang. Mata cokelatnya bertemu dengan mata Arshelia. Matanya tidak kejam. Hanya luas. Seolah ia telah melihat segalanya dan masih memilih untuk memandangnya.
Dan semuanya di mulai..
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang