Hujan turun tanpa ampun sore itu. Langit Necthaven dipenuhi awan gelap, sementara suara petir menggema di antara gedung-gedung kota yang dingin. Miya Reina berdiri gemetar di depan mansion keluarga Akihara dengan mata memerah dan napas tidak teratur. Gaun putih sederhana yang ia kenakan sudah basah terkena hujan, begitu juga rambut panjangnya yang menempel di pipi. "Ayah... jangan..." Suaranya hampir tenggelam oleh deras air hujan. Namun pria di sampingnya tetap menggenggam lengannya erat. Ayahnya sendiri. Tatapan pria itu penuh tekanan dan rasa putus asa yang tidak mampu disembunyikan lagi. "Kita sudah tidak punya pilihan, Rei." Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada dinginnya hujan. Di sekitar mereka, beberapa pria bersetelan jas hitam berdiri diam seperti bayangan. Wajah mereka datar, tetapi keberadaan mereka cukup untuk membuat siapa pun merasa terjebak. Mereka adalah anak buah keluarga Akihara. Keluarga mafia yang menguasai Nocthaven dari balik kegelapan. Pintu mansion besar perlahan terbuka. Lampu-lampu hangat dari dalam memantul di lantai marmer yang basah. Dan di sanalah - seorang pria berdiri dengan tenang seolah sudah mengetahui semua yang akan terjadi. Ren Akihara. Tatapannya dingin. Sulit dibaca. Dan entah kenapa... justru itulah yang paling menakutkan. Miya menahan napas saat mata mereka bertemu untuk pertama kalinya. Sore itu, Rei sadar... Hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
More details