A L A S K A
Jennaira menatap Alaska dengan mata yang sudah memerah. Dadanya naik turun, napasnya memburu, seolah berusaha menahan ribuan emosi yang saling bertabrakan. Namun, saat pandangannya bertemu dengan laki-laki yang begitu ia cintai, seluruh pertahanannya runtuh.
Air mata kembali mengalir tanpa bisa ia bendung. Tangannya mengepal begitu erat hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan sendiri.
"Kamu..." suaranya bergetar hebat. "Kamu bawa aku sejauh ini... cuma buat ngulangin trauma yang pernah aku rasain dimasa lalu, Aska."
Tangisnya pecah.
"Aku datang ke hidup kamu dengan semua luka yang masih belum benar-benar sembuh. kamu sendiri yang yakinin aku kalau cinta itu ada, dan ngebuat aku ngerasa jadi orang yang paling beruntung karna dicintai sehebat itu sama kamu. Aku percaya sama kamu, Aku percaya kamu bakal jadi orang yang nggak akan nyakitin aku."
Jennaira menatap Alaska dengan tatapan yang dipenuhi kekecewaan.
"Tapi ternyata... justru kamu yang bikin luka itu semakin dalam."
Ia menarik napas panjang, namun suaranya tetap bergetar.
"Dari begitu banyak perempuan di dunia ini..." air matanya jatuh semakin deras. "Kenapa harus sahabat aku, Aska?"
Keheningan memenuhi ruangan.
"Kenapa...?" ulangnya lirih, suaranya nyaris patah.
"Kenapa harus orang yang paling aku percaya setelah kamu askaa? KENAPA HARUS DIAAA!!
Setiap kata yang keluar terasa seperti menghancurkan dirinya sendiri. Tubuh Jennaira mulai gemetar. Ia menunduk sesaat, mencoba mengatur napas yang semakin sesak.
"Aku kurang apa, Aska?" bisiknya. "Apa selama ini aku nggak cukup buat kamu?"
Alaska hanya mampu menunduk, tanpa mampu membalas tatapannya. Wajahnya dipenuhi penyesalan, tetapi tak ada satu pun kata yang mampu menghapus kenyataan yang telah terjadi.
Bibirnya terbuka perlahan.
"Sorry, Baby..."
Suaranya begitu pelan, nyaris tak lebih dari bisikan.
Namun, dua kata itu justru terasa seperti pisau yang kembali mengiris hati Jennaira.