Di setiap manusia, ada ruang sunyi yang jarang dijamah. Tempat di mana semua hal yang pernah ditinggalkan diam-diam. Luka, kecewa, kehilangan, dan cinta yang tidak selesai. Bagi Nara, ruang itu telah lama menjadi rumah.
"Reda" bercerita tentang perjalanan batin seorang perempuan yang perlahan belajar berdamai dengan masa lalunya. Melalui suara "aku" yang tenang namun jujur, Nara menuturkan proses panjang menuju ketenangan: dari rasa hampa, penyesalan, hingga titik di mana ia akhirnya belajar melepaskan tanpa kebencian.
Setiap bab adalah potongan refleksi, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa dijelaskan, tentang manusia yang berusaha sembuh dengan caranya sendiri. Nara tidak berlari dari luka, tapi menatapnya, memahami bahwa perasaan tidak selalu harus dilupakan agar bisa dimaafkan.
Di tengah perjalanannya, Nara berjumpa dengan orang-orang yang memantulkan dirinya: mereka yang juga pernah jatuh, bertahan, dan mencari makna dari sunyi. Melalui percakapan, keheningan, dan renungan yang sederhana, ia perlahan menyadari bahwa ketenangan bukanlah hasil dari berlalunya badai, melainkan kemampuan untuk tetap duduk di tengah hujan tanpa merasa kalah.
"Reda" bukan kisah cinta romantis, tapi kisah tentang mencintai diri sendiri dengan cara yang lembut. Tentang bagaimana seseorang akhirnya berhenti menuntut dunia untuk tenang, dan mulai menenangkan dirinya sendiri.
Dengan gaya bahasa puitis dan lembut, novel ini mengajak pembaca menyelami sisi terdalam diri mereka, menemukan diri di antara kehilangan, dan menyadari bahwa "reda" bukan akhir, melainkan permulaan.
All Rights Reserved