Bethari Suci Prameswari-anak Danjen Kopassus, sangar, tomboi, dan disegani di Lorong Timur. Baginya, Senandika Bayu Senjakala hanyalah anak kampung pendiam, miskin, dengan tatapan mata aneh yang tak layak diperhitungkan.
Takdir mempertemukan mereka dalam tugas puisi absurd tentang angka dan hujan. Dipaksa bicara, dua dunia yang bertolak belakang ini mulai bergesekan. Di balik sikap keras Bethari, ada kerapuhan yang ia sembunyikan. Di balik keheningan Senandika, tersimpan kekuatan dan masa lalu kelam yang tak terduga.
Ikatan aneh mulai tumbuh setetes demi setetes, melalui bekal sederhana dari kampung dan bait-bait puisi yang menelanjangi jiwa. Namun, saat bayangan brutal dari masa lalu dalam wujud geng motor kejam mulai mengintai Senandika, mengancam satu-satunya orang yang ia miliki, Bethari tersadar. Ini bukan lagi sekadar tentang perbedaan status sosial atau ejekan di koridor sekolah. Ini tentang pertaruhan nyawa.
Mampukah ketenangan Senandika yang menyimpan api dan keberanian Bethari yang membara bertahan saat kota mulai menuntut darah? Dan mampukah mereka melindungi satu sama lain, ketika musuh terbesar justru datang dari dunia yang tak pernah mereka bayangkan?
Sebuah kisah slow burn tentang luka, keluarga, dendam, dan cinta yang bersemi di antara bising dan sunyi.
Warning: Mengandung adegan kekerasan.
All Rights Reserved