"Apakah ini yang disebut rumah? Rasanya benar-benar aneh..."
"Jika tidak ada tempatmu untuk berpulang, kami ada di sini, m/n! Kami akan menjadi tempatmu berteduh!"
Aneh... tapi nyata. Ia tak pernah tahu bagaimana rasanya dipedulikan. Ia tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang, apalagi cinta. Ia tak tahu arti dari kata rumah. Tempat di mana seseorang bisa merasa aman, diterima, dan dicintai.
Namun, kehadiran mereka perlahan membuatnya memahami arti dari semua itu.
Hidupnya yang kelam membuat kata 'rumah' dan 'tempat bersandar' terdengar asing, seolah berasal dari bahasa yang tak pernah ia pelajari. Yang ia kenal hanyalah kata-kata seperti 'tak berguna', 'beban', dan 'aneh'. Itu saja.
Ia dianggap aneh karena matanya yang heterochromia, dua warna yang berbeda, dua dunia yang bertentangan. Tapi bukankah itu takdir? Kita tidak bisa memilih seperti apa rupa kita. Hanya Tuhan yang berhak menentukan bentuk dan wajah yang kita miliki.
Hinaan sudah menjadi teman lamanya, bagian dari kesehariannya. Tapi jika ada yang memujinya, jika ada kata positif yang tertuju padanya, ia hanya bisa terdiam. Ia tak tahu bagaimana harus bereaksi, seolah kata-kata itu berasal dari dunia yang bukan miliknya.
Dan untuk pertama kalinya... ia mulai bertanya-tanya mungkin, hanya mungkin-apakah ia juga berhak untuk merasakan hangatnya tempat bernama rumah?
All Rights Reserved