Dua Kopi Hangat

Dua Kopi Hangat

  • WpView
    Membaca 13
  • WpVote
    Vote 3
  • WpPart
    Bab 5
WpMetadataReadDewasaBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sab, Jun 27, 2026
Dua cup kopi. Satu selalu untuk Aruna. Begitulah semuanya dimulai, di perpustakaan universitas lantai dua, di meja pojok dekat jendela. Abhiseva Bimantara selalu membeli dua kopi, tetapi hanya meminum satu. Yang satunya selalu berakhir di depan Aruna Bintang, tanpa penjelasan dan tanpa diminta. Mereka tidak pernah memberi nama pada hubungan itu. Hanya pulpen yang saling dipinjam, pesan dan dering telepon larut malam yang selalu dibalas, ajakan mengisi perut sehabis Aruna praktikum, dan dua orang yang terlalu sering berada di tempat yang sama hingga kebetulan terasa seperti pilihan. Aruna adalah mahasiswi FKG. Abhi, senior Teknik Arsitektur, hidup di dunia yang berbeda-populer, berbakat, dan entah mengapa selalu membeli dua kopi setiap kali Aruna ada di sana, dengan satu ciuman yang tidak pernah dibicarakan setelahnya. Lalu Abhi wisuda. Ia pergi ke TU Delft untuk melanjutkan S2 tanpa perpisahan yang benar, hanya menyisakan kabar yang datang belakangan dan banyak pertanyaan yang tidak pernah terjawab. Saat itulah Aruna belajar bahwa sesuatu yang bahkan tidak pernah punya nama pun bisa meninggalkan kehilangan yang begitu besar.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Nala dan Mas Juragan
  • Kedhaton Soeraandaru Hadiningrat
  • Be My Wife
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • My Celestia [ON GOING]
  • Pawang Hantu Om Aktor
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Villain Mother
  • The Last Yes!
  • Hello, KKN!

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan