AKU PENCIPTA URBAN LAGEND

AKU PENCIPTA URBAN LAGEND

  • WpView
    Reads 91
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 17
WpMetadataReadOngoing1h 50m
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 22, 2025
Hariz, seorang pelajar tingkatan lima di Johor Bahru, hidup seperti remaja biasa - kecuali satu malam yang mengubah segalanya. Dalam perjalanan pulang dari sekolah, dia menemui sebuah buku lama bersampul hitam di tepi Sungai Tebrau. Kulitnya berdebu, namun tertulis di depannya satu ayat yang menggetarkan jiwa: > "Tulislah sebuah legenda, dan ia akan hidup." Buku itu bukan sekadar buku. Ia adalah "Grimoire Lagenda" - artifak purba yang memberi kuasa kepada pemiliknya untuk mencipta entiti urban legend sebenar, berdasarkan cerita yang ditulis di dalamnya. Namun, tidak seperti kisah seram lain, buku ini tidak mengutuk pemiliknya. Sebaliknya, ia memberi "Legend Points" setiap kali entiti ciptaannya dikenali oleh manusia. Lebih ramai yang mempercayai legenda itu, lebih kuatlah makhluk tersebut. Hariz, dengan rasa tanggungjawab dan dendam terhadap kejahatan yang menghantui bandar JB, mula mencipta legenda pertamanya - "Gadis Cheongsam Merah", roh misteri yang menghukum perogol dan pemangsa wanita. Apabila mayat penjenayah mula dijumpai dengan tanda luka seolah-olah dicakar kuku panjang wanita, dunia mula gempar. Namun Hariz tahu - itu bukan kebetulan. Itu adalah hasil penanya. Semakin banyak legenda dicipta, semakin kuat kuasanya... dan semakin kabur sempadan antara realiti dan mimpi ngeri. Akhirnya, Hariz mula disedari oleh organisasi rahsia dunia - mereka yang memburu "Pencipta Lagenda", kerana kuasa buku itu mampu mengubah dunia menjadi apa sahaja yang tertulis. Hariz kini bukan lagi pelajar sekolah biasa, tetapi arkitek kepada ketakutan manusia.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALEA: Gerbang Ketiga-Di Balik Pintu Tak Bernama
  • Hak Milik Arissa Aura Sofea | Ongoing
  • BUBAR JALAN
  • Bumi
  • Tania
  • Nyangga
  • AUREX : SHADOW PROTOCOL

Hujan jatuh di kota itu seperti benang tipis dari langit, memantulkan lampu neon yang berkedip lelah. Di persimpangan jalan, seorang lelaki berdiri dengan payung miring. Matanya mengikuti sosok perempuan yang berjalan cepat, menunduk, seolah menghindari dunia. Ia tak mengenalnya. Tapi jantungnya memukul seperti lonceng tua yang pernah ia dengar di tempat yang tak pernah ada di peta. Pasar malam di pusat kota menyala dengan warna-warna hangat, tapi suara penjualnya lenyap. Lampion bergoyang tanpa angin. Dan di sela-sela kerumunan yang tiba-tiba membeku, mata perempuan itu-mata yang sama seperti di hutan yang dulu ia tinggalkan-menatapnya. Di ujung sebuah lorong, bioskop tua berdiri sendirian. Dindingnya berlumut, pintunya berdebu, tapi dari celahnya keluar denyut cahaya yang tidak berasal dari proyektor. Pintu itu tidak ada kemarin. Dan besok, mungkin akan hilang lagi. Di rel kereta yang berkarat, cahaya asing turun seperti aurora yang tersesat. Bayangan-bayangan panjang menari di aspal, memanggil nama yang sudah lama tak diucapkan. Di sebuah gang buntu, sebuah toko buku yang tak pernah buka di siang hari menyimpan peta kota yang tidak pernah dicetak. Dan di bawah tanah, pasar gelap menjual kompas yang selalu menunjuk ke arah yang salah. Langit retak di atas jembatan. Retakannya halus, seperti kaca yang dicakar dari sisi lain. Di baliknya, bukan hanya bintang, tapi hutan dengan akar yang menjuntai, menggapai kota seperti jemari yang lapar. Di tengah semua itu, ia berdiri. Ia-yang dulu meninggalkan segalanya di hutan tak bernama-kini kembali, bukan sebagai Alea, tapi sebagai seseorang yang dipanggil Katiya. Ia tidak ingat siapa dirinya. Tidak tahu mengapa setiap langkahnya membuat kota ini makin kehilangan bentuk. Dan di ujung segalanya, ada pintu. Pintu yang tak bernama. Pintu yang hanya terbuka sekali-dan menuntut satu jiwa untuk menutupnya. ---

More details
WpActionLinkContent Guidelines