Sinopsis
Aurelia Celeste Mireille tumbuh dalam rumah yang tak pernah benar-benar hidup. Di dindingnya menggantung potret lama tanpa senyum, dan di udara melayang kata-kata yang selalu gagal diucapkan. Ibunya, Miora, adalah perempuan yang menyimpan dunia dalam matanya-dan membungkamnya dalam diam.
Ayah Aurelia telah lama pergi. Ia tidak meninggalkan surat, hanya kepergian yang akhirnya menjadi bagian dari cerita turun-temurun kehilangan yang diwariskan. Seiring waktu, Aurelia belajar menjadi senyap seperti ibunya, mengunci rasa dalam kepala dan menyembunyikannya di balik kanvas dan cat air.
Namun semuanya berubah ketika ia menemukan buku tua milik Miora. Halaman demi halaman berisi puisi-puisi tentang ketakutan menjadi ibu, tentang cinta yang menyakitkan, dan tentang seorang anak perempuan yang tumbuh dari luka. Dari sana, Aurelia menyadari satu hal ada kesedihan yang tidak pernah ia pilih, tapi telah menjadi bagian dari nadinya. Sudah mendarah.
Di tengah proses memahami dirinya, Aurelia bertemu Kael, pemuda dengan luka yang tak kalah dalam. Bersama Kael, Aurelia perlahan belajar bahwa tidak semua warisan harus diterima. Bahwa seseorang boleh memilih untuk berhenti menjadi wadah dari kesedihan generasi sebelumnya. Bahwa mencintai diri sendiri-dengan segala cela dan trauma-adalah bentuk paling sunyi dari keberanian.
Mendarah adalah kisah tentang perempuan muda yang mencari akar dari luka-lukanya, bukan untuk menyalahkan, tapi untuk menyembuhkan. Sebuah perjalanan batin tentang bagaimana kesedihan bisa tumbuh bersama cinta, dan bagaimana kita bisa mencabutnya-pelan-pelan, meski sudah mendarah.
awal : 22-10-2025
Alvas Mattheo, cowok paling sempurna di mata orang-orang. Pintar, tampan, ramah, semua predikat baik melekat padanya. Terlebih menjabat sebagai ketua OSIS di SMA-nya.
Sama halnya dengan orang-orang, Milly Oktaviani pun menganggap Alvas Mattheo memang cowok sempurna di sekolahnya. Walaupun dua tahun menjadi saingan dalam merebutkan peringkat pertama pararel, tapi Milly tak pernah menaruh rasa benci pada Alvas.
Sayangnya, predikat cowok sempurna yang melekat pada Alvas hanyalah omong kosong.
Alvas itu munafik! Dia muka dua!
Setidaknya, begitulah yang Milly pikiran setelah hari itu ia memergoki Alvas melakukan hal paling buruk di matanya.