Art step

Art step

  • WpView
    Reads 31
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadComplete Wed, Apr 8, 2026
Cloe tidak percaya pada cinta-setidaknya, bukan pada cinta yang menuntut kedekatan dan membuka luka lama. Ia terbiasa menjaga jarak, bersembunyi di balik ketenangan dan kendali diri. Hingga Tristan datang-dengan tawa ringan, sikap santai, dan tatapan yang entah bagaimana selalu bisa menembus pertahanannya. Bagi banyak orang, Tristan tampak seperti pria yang tidak pernah benar-benar serius. Tapi hanya ia yang tahu, setiap langkah mundur yang diambilnya adalah bentuk dari cinta yang paling tulus: cinta yang menahan diri agar tidak menakuti, cinta yang menjaga jarak agar yang dicintai merasa aman. Namun, seberapa lama seseorang bisa mencintai tanpa mendekat? Dan seberapa lama seseorang bisa berlari tanpa benar-benar ingin pergi? Sebuah kisah tentang dua jiwa yang sama-sama takut tersakiti-dan tentang bagaimana cinta terkadang berarti berani bertahan di jarak yang tak nyaman.
All Rights Reserved
#29
galang
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Almost Married (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • The Last Yes!
  • The Villain Mother
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Chasing Sanara
  • De Andere Weg (END)
  • Nala dan Mas Juragan

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines