German Empire in another world

German Empire in another world

  • WpView
    Reads 273
  • WpVote
    Votes 30
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 29, 2026
Tahun 2049 - satu tahun setelah umat manusia meraih kemenangan mutlak dalam BETA-Krieg. Kekaisaran Jerman, Kekaisaran Jepang, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko - lima pilar peradaban terakhir - kini berdiri di atas dunia yang hancur total. Bumi terluka, perbatasan hilang, dan umat manusia terpecah antara harapan dan trauma perang yang tak berkesudahan. Di tengah rekonstruksi global, Jerman menemukan keanehan di bekas medan tempur Moskwa - sumber energi misterius yang tidak berasal dari bumi. Para ilmuwan Reich menyebutnya sebagai "Singularität Alpha", residu spasial dari senjata eksperimen yang digunakan saat perang terakhir. Namun penelitian itu justru membuka sesuatu yang seharusnya tetap tertutup. Sebagai bagian dari kebangkitan teknologi pascaperang, ilmuwan dan militer Reich menghidupkan kembali proyek rahasia yang pernah digagas di masa perang - Alternatif VI: Weltsprung (Lompatan Dunia). Rencana ini bertujuan untuk membuka jalur migrasi antar-dimensi, sebagai jalan terakhir bila Bumi benar-benar tak layak huni. Seluruh sumber daya ilmiah dan militer Kekaisaran difokuskan pada satu target: menciptakan "pintu menuju dunia baru." Namun, takdir mendahului rencana mereka. Pada 27 Oktober 2049, setahun sebelum pelaksanaan resmi Weltsprung, langit Germania berubah. Cahaya putih menyelimuti benua Eropa, melahap segala yang hidup dan mati. Tak ada peringatan, tak ada komunikasi terakhir - hanya keheningan. Ketika kesadaran kembali, pasukan Kekaisaran Jerman, kota-kota megah mereka, dan wilayah Kekaisaran yang membentang dari bekas wilayah Portugal, Hingga Arkhangelsk-Astrakhan menemukan diri mereka di dunia asing - dunia di mana sihir dan kerajaan feodal menggantikan teknologi dan diplomasi. Tanah ini disebut Suterra - dunia baru dengan hukum alam yang berbeda, ras-ras non-manusia, dan konflik yang terpendam di setiap kerajaan. Bagi Kekaisaran Jerman, dunia ini bukan pengasingan... tetapi panggung kebangkitan baru.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  •   My Switched Daughter END
  • Transmigrasi: The Villain's Stepmother
  • New life, New problems [END]
  • GALEN PRADIPTA
  • A Family of Villains
  • Just let me live, Duke!
  • The Duke'S Red String
  • Sin of The Villainess
  • 𝐎𝐍𝐄 𝐒𝐇𝐎O𝐓🔞 •VKOOK
  • Shaenette: Skenario Kedua

Elia, gadis kecil berusia tujuh tahun, sudah dipaksa mengamen oleh ibunya sejak usia empat tahun. Hidupnya hanya dipenuhi bentakan, rasa lapar, dan malam-malam tanpa pelukan. Ia tak tahu rasanya disayang-dan perlahan, ia berhenti berharap. Sampai suatu malam, Elia tertidur dalam tangis dan terbangun di dunia novel yang pernah ia lihat di lapak buku bekas. Ia berada dalam tubuh seorang anak kecil berusia empat tahun-putri kandung dari keluarga kaya, yang ditukar oleh pembantunya sejak bayi. Akibatnya, si anak kandung justru tumbuh dalam perlakuan kejam, dikucilkan, dan dijadikan pelayan di rumah sendiri, karena keluarga aslinya tidak tahu kebenarannya. Kisah dalam novel itu berawal dari kematian sang ibu saat melahirkan, tanpa pernah tahu bahwa bayinya telah ditukar. Sementara anak kandung si pembantu, yang dibesarkan sebagai anak majikan, justru hidup penuh kasih sayang dan tumbuh menjadi anak sombong yang suka merendahkan anak pelayan-yang sebenarnya adalah darah daging keluarga itu sendiri. Di sinilah Elia berperan sebagai bayi yang tertukar-yang kini menjadi "pelayan kecil" di rumah orang tua kandungnya. Jalan takdir yang tertulis dalam novel tetap berjalan: sejak usia empat tahun, Elia (dalam tubuh baru) menerima perlakuan kasar dari perempuan yang mengaku sebagai ibunya. Baginya, asalkan bisa makan, itu sudah cukup. Ia menerima takdir barunya dengan pasrah. Kasih sayang? Ia tak berani menginginkannya lagi. Ia takut, kalau berharap... akhirnya hanya akan kecewa. Namun tanpa disadari, keluguannya, kepolosannya, tingkah lucunya, dan suara cadelnya-perlahan mulai mencuri perhatian ayah kandung dan ketiga abang yang tak pernah tahu... siapa dia sebenarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines