Baskara Swaradja: Soerakarta 1942 [ON GOING]
Solo, Juli 1945
Hujan turun lirih membasahi halaman Pura Mangkuningrat ketika seorang lelaki berdarah bangsawan dipaksa bersimpuh di tanah penuh lumpur dan darah. Wajahnya lebam, napasnya tersengal-sengal, namun matanya menyoroti penuh murka kepada lelaki yang berdiri di hadapannya.
"Jika hari ini aku mati di tanganmu-kelak kalian tak lagi menghadapi rakyat yang diam begitu saja. Kalian akan menghadapi sejarah gelap yang menuntut balasan..." Suara itu menggema di tengah malam yang basah oleh hujan dan darah. "... cepat atau lambat, kalian tetap akan diadili."
Lalu satu dentuman memecah malam. Seorang lelaki hanya tersenyum puas melihat tubuh tak berdaya itu roboh bersama runtuhnya harapan rakyat kecil.
Solo, 1967
Danadyaksa Suryalaga-putra dari perkawinan KGPAA Mangkuningrat XIV Baskara Suryalaga dengan GKP Larasati, sekaligus pewaris gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkuningrat XV-akhirnya diizinkan membuka kembali luka yang selama puluhan tahun dipaksa membusuk dalam diam: kasus almarhum Romo-nya sendiri.
Namun yang ditemukan Danadyaksa bukan sekadar potongan masa lalu, bukan pula cerita tua yang tinggal jadi dongeng meja makan para bangsawan. Ia menemukan jejak darah, pengkhianatan, dan harga diri rakyat kecil Kota Solo yang pernah diinjak demi menjaga singgasana tetap berdiri tegak.
Tentang gadis-gadis yang dijanjikan masa depan lalu lenyap tanpa nama. Tentang rakyat yang diperas tenaganya pada masa penjajahan Jepang, sementara para pemilik kuasa sibuk menyelamatkan martabat keluarganya sendiri. Dan tentang bagaimana kehormatan sering kali hanyalah topeng paling mahal untuk menyembunyikan kebusukan.
Semakin dalam Danadyaksa menggali, semakin jelas bahwa sejarah tidak pernah benar-benar ditulis oleh orang jujur-melainkan oleh mereka yang punya uang, kuasa, dan cukup banyak tangan untuk menutup mulut saksi.
Lalu pertanyaannya menjadi sederhana, tapi menyakitkan-
Kalau hukum saja bisa dibeli dengan uang,
siapa sebenarnya yang pantas diadili?