The Pages Untold

The Pages Untold

  • WpView
    Reads 11,182
  • WpVote
    Votes 1,763
  • WpPart
    Parts 18
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 25, 2026
Memasuki tahun kedua SMA-nya, Arisha memutuskan untuk bergabung dengan salah satu ekstrakurikuler di sekolah. Pilihannya jatuh pada sebuah klub buku yang dibentuk oleh perpustakaan. Arisha kira, anggota klub tersebut tidak jauh-jauh dari orang seperti dirinya. Pendiam, tidak mudah bergaul, dan ... yang terpenting, suka membaca. Tapi, siapa sangka kalau ia malah menemui keberadaan murid-murid tenar Adhirajasa di sana. Mereka adalah: 1. Rendra, Si Ketua OSIS, 2. Gala, pentolan angkatan yang hobi berbuat onar, 3. Bima, ace kebanggaan klub basket, 4. serta Zara, sang juara umum yang dikenal ambisius. Dan rupanya, klub buku yang semula Arisha kira sebagai tempat penuh ketenangan, ternyata menyimpan banyak cerita yang berhasil menambah warna pada hari-hari sekolahnya. Bukan hanya warna-warni selayaknya sekumpulan bunga liar, namun juga kelabu yang membuat hatinya membiru. Original Story by Licoriece Vin © Karya ini dilindungi oleh Undang-undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Bagi pihak yang melanggar undang-undang tersebut dengan memplagiasi karya ini, akan dilaporkan sebagai pelaku pelanggaran hak cipta sesuai hukum pidana.
All Rights Reserved
#58
teenfiction
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Auto Save!
  • ELION (bl)
  • "Liburan" Bonus Suami
  • The Antagonist Hates Socializing [End]
  • Transmigrasi Menjadi Mama Tiga Alpha
  • Target Si Supir
  • After the Fall
  • Your Auntie
  • Trouble Maker
  • Lysander Lowell De Villiers

​"Bang, sumpah gue capek direvisi terus. Pengen resign terus nikah sama sugar daddy aja rasanya." "Kirimkan syarat pendaftarannya ke saya." "Hah? Pendaftaran apaan? Staf desain baru?" "Pendaftaran untuk menjadi laki-laki yang membiayai seluruh sisa hidup kamu." "Bang, kata anak-anak, Abang baru aja nolak Kak Dita ya? Padahal dia primadona kampus loh." "Itu bukan urusan kamu." "Lagian Abang nyari standar yang kayak gimana sih? Yang modelan bidadari turun dari kahyangan aja ditolak mentah-mentah." "Saya mencari yang berantakan, paling susah diatur, hobi begadang, dan selalu membantah ucapan saya..." "..." "Dan wangi tubuhnya seperti permen stroberi." Javas Mahesa (Jaja) mengira kutukan terburuknya sebagai mahasiswa DKV adalah urban legend hantu gantung diri di kosan lantai empatnya. Ternyata dia salah besar. Bencana aslinya justru berwujud Rendra Aditama, mahasiswa tingkat akhir Fakultas Hukum sekaligus koordinator divisinya yang kaku, galak, dan punya hobi meneror kanvas Figma milik Jaja dua belas jam sehari. Berawal dari keterpaksaan berburu sertifikat kelulusan, Jaja pikir penderitaannya di bawah kekuasaan kursor biru itu hanya sebatas nasib staf bawahan yang tertindas. Namun, dengan semua rentetan revisi tanpa ampun, kating hukum itu rupanya menyimpan agenda lain. Rendra tidak hanya berniat mendominasi kanvas desain Jaja, tapi juga seluruh perhatian, waktu, dan detak jantung mahasiswa baru yang selalu membuatnya pusing itu. Selamat datang di pusaran Nawasena Project. Tempat di mana revisi desain tidak pernah selesai, dan sikap posesif ugal-ugalan bersemi secara paksa dari sebuah ruang kerja digital. [Rank #1 - di #kampus 03/06/2026] [Rank #4 - di #bllokal 26/05/2026] [Rank #11 - di #boyslove 16/06/2026] Di-publish pertama kali pada Mei 2026.

More details
WpActionLinkContent Guidelines